Tampilkan postingan dengan label joyoboyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label joyoboyo. Tampilkan semua postingan

Islam dalam ramalan Joyoboyo

(Telaah Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya)

PENDAHULUAN

Bagi sebagian kalangan muslim memunculkan kajian terhadap ‘keberterimaan’terhadap ramalan sudah tentu akan memantik sebuah polemik. Betapa tidak, konsep Islam dalam memandang ramalan pada dimensi supranatural telah tegas dan jelas. Umat Islam dikenai larangan atas sejumlah pengharapan spekulatif, seperti mengundi suatu pilihan dengan anak panah, berjudi, dan termasuk di dalamnya dengan jalan mempercayai ramalan. Apa yang penulis maksudkan dengan ramalan ini sudah tentu bukan merupakan sebuah upaya perkiraan masa depan dengan sejumlah metode ilmiah semacam metode forecasting penilaian kelayakan bisnis dalam perekonomian atau sejenisnya. Namun lebih kepada ramalan yang berorientasi pada klenik dan atau mengarah praktek kebatinan. Efek ramalan sendiri biasanya berlainan pada tiap-tiap individu yang berbeda. Akan tetapi umumnya, ramalan akan membuat manusia terjebak oleh angan-angan, bahkan secara negatif menjerumuskan pada kemusyrikan.

Namun harus menjadi sebuah kesadaran bahwa realitas yang lain tentang berkembangnya ramalan, akhir-akhir ini, justru semakin marak menyeruak. Semakin canggih piranti teknologi, kemudahan menikmati hidup, dan terbuka lebarnya akses informasi bukannya mengikis kepercayaan manusia modern terhadap model klenik yang satu ini. Ramalan justru seperti memanfaatkan kondisi dengan berperan mengisi kekosongan jiwa “manusia modern” dari kemiskinan spiritualitas. Ramalan bukan lagi identik dengan asap kemenyan pedupaan, spekulasi kartu tarot, bola kristal, pendulum, atau benda-benda yang dianggap memiliki tuah magis lainnya. Akan tetapi berkembang dengan menyelusup melalui layanan jasa komunikasi yang bisa diakses melalui piranti elektronik dengan biaya relatif terjangkau oleh masyarakat luas.

Di kelas menegah ke bawah, kebangkitan ramalan ditandai dengan menguatnya isu-isu lawas tentang pentahapan jaman. Kondisi perubahan sosial kemasyarakatan yang terus didera oleh berbagai kesulitan hidup, krisis kemanusiaan berkepanjangan, dan dekadensi moral telah menumbuhkan angan-angan dan penantian akan kemunculan sosok ‘ratu adil’. Tidak terkecuali, ramalan seringkali menjadi pelarian atas kehidupan yang dianggap semakin tidak pasti.

Bagi masyarakat Jawa khususnya, ramalan Jayabaya (baca: Joyoboyo) merupakan ramalan yang dianggap memiliki akurasi tinggi dalam menerangkan berbagai pertanda perubahan jaman. Ramalan ini sering diagung-agungkan sebagai memiliki gambaran tentang masa depan secara jelas dan meyakinkan. Anehnya, masyarakat yang mempercayai “kebesaran” ramalan Jayabaya, umumnya tidak memiliki pengenalan mendalam tentang keyakinannya berdasarkan sumber ‘resmi’ ramalan Jayabaya. Sikap taken for granted yang mereka tunjukkan umumnya terbentuk hanya melalui proses oral dengan sumber informasi yang tidak jarang sukar dipertanggungjawabkan. Tidak jarang mereka hanya berpatokan kepada ‘kata orang’. Demikian juga sejumlah pihak yang memposisikan diri sebagi penolak ramalan Jayabaya, umumnya juga tidak membangun sikapnya berdasarkan pengetahuan ataupun proses kajian yang jelas. Bahkan kadangkala hanya didasarkan atas sikap mula-mula yang sudah antipati terhadap istilah ‘ramalan’, maka menjadi justifikasi bahwa ramalan Jayabaya pun memiliki kadar ‘negatif’ sebagaimana penilaian awalnya.

Hadirnya tulisan terkait ramalan Jayabaya ini bukan merupakan usaha untuk melegalkan praktek ramalan. Namun lebih merupakan upaya informatif bagi para pembaca guna bersama memahami hakikat ramalan Jayabaya. Sehingga kejelasan sikap dan tindakan pembaca, terutama sebagai seorang muslim, akan terbangun berlandaskan sebuah pemahaman yang nyata. Sekaligus dalam hal ini penulis berharap, akan tumbuh sikap bahwa baik dalam posisi menerima maupun menolak terhadap hakikat sesuatu hendaknya didasarkan pada sebuah pengetahuan dan bukan hanya berdasarkan penilaian awal yang belum tentu benar apalagi sekedar ‘kata orang’.

PENULIS RAMALAN JAYABAYA

Perlu diketahui, Ramalan Jayabaya merupakan kumpulan ramalan yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa. Ramalan yang sering disebut dengan istilah Jangka Jayabaya (baca: jongko joyoboyo) tersebut dinilai oleh banyak kalangan sebagai hasil karya pujangga yang memiliki akurasi tinggi dalam menggambarkan jaman dan kondisi masa depan yang diprediksi. Dengan kata lain sejumlah ‘orang Jawa’ sangat mempercayai ketepatan dan kesesuaian Jangka Jayabaya dalam menggambarkan masa depan.

Jangka Jayabaya memiliki banyak versi, minimal ada 9 (sembilan) macam versi. Umumnya kitab-kitab tentang ramalan Jayabaya tersebut merupakan hasil karya abad XVII atau XIX Masehi. Dari beragam versi Jangka Jayabaya tersebut, secara substansial kebanyakan memiliki kesamaan ide dan gagasan. Kemungkinan besar hal ini disebabkan beragam versi tersebut sebenarnya mengambil dari sebuah sumber induk yang sama yaitu kitab yang disebut Musarar atau Asrar. Oleh karena itulah maka penulis memutuskan untuk membatasi kajian ini berdasarkan Serat Pranitiwakya Jangka Jayabaya saja. Kitab diyakini merupakan karya Raden Ngabehi Ranggawarsita (baca: Ronggowarsito).[1] Serat Pranitiwakya ini dapat dikatakan mewakili ramalan Jayabaya dalam wujud yang bersifat lebih ringkas.

TOKOH JAYABAYA MENURUT SERAT PRANITI WAKYA

Jayabaya yang dimaksud dalam Jangka Jayabaya tidak lain adalah Prabu Jayabaya, raja Kediri, yang dianggap memiliki kemampuan luar biasa dalam meramal masa depan. Nama Prabu Jayabaya sendiri bagi masyarakat Jawa sering menjadi inspirasi dalam menciptakan gambaran tentang ratu adil. Keberadaannya kerap kali dikaitkan sebagi penitisan Dewa Wisnu yang terakhir di tanah Jawa.[2] Hal yang terakhir ini menjelaskan bahwa Prabu Jayabaya hidup pada atmosfer jaman Hindhuisme dimana seorang raja besar yang pernah hidup digambarkan memiliki hubungan dengan dunia mistik, sebagi wujud inkarnasi Dewa dalam rangka menjaga kelangsungan kehidupan di mayapada (bumi).

Akan tetapi pesan utama yang hendak disampaikan ramalan Jayabaya tentang sosok prabu Jayabaya, hakekatnya justru tidak mengkaitkan sang raja dengan Hindhuisme. Dalam Serat Praniti Wakya, Prabu Jayabaya digambarkan sebagai seorang yang telah menganut agama Islam. Bahkan dalam versi Serat Jayabaya yang lain digambarkan bahwa keislaman yang paling mendekati praktek Nabi adalah keislaman Prabu Jayabaya pada masa itu. “Yen Islama kadi Nabi, Ri Sang Jayabaya…” (Jika ingin melihat keislaman yang yang mendekati ajaran Nabi (Muhammad saw), orang demikian adalah Sang Jayabaya).[3] Gambaran keislaman yang dianggap terbaik demikian, jika memang benar terjadi, pembandingnya tentu adalah praktek keagamaan pada jaman Hindhuisme yang mendominasi tersebut. Parbu Jayabaya dianggap sebagai tokoh Muslim dengan parktek keislaman terbaik mendekati parktek Nabi dibandingkan banyak manusia pada masa itu yang masih mempraktekkan ajaran Hindhu.

Terkait dengan ‘keislaman’ Prabu Jayabaya, Serat Praniti Wakya menjelaskan bahwa raja Kediri tersebut telah berguru kepada Maulana Ngali Syamsujen yang berasal dari negeri Rum. Yang dimaksud dengan tokoh tersebut tentu adalah Maulana ‘Ali Syamsu Zein, seorang sufi yang kemungkinan besar berasal dari Damaskus. Pabu Jayabaya, digambarkan dalam Praniti Wakya sebagai sangat patuh menjalankan ajaran gurunya yang beragama Islam tersebut.

Lantas, apakah ‘keislaman’ Prabu Jayabaya yang hidup dalam atmosfer jaman kehindhuan ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai informasi yang shahih ? Hal ini merupakan persoalan yang sulit diverifikasi kebenarannya. Sebab tidak terlalu banyak bahan yang dapat digunakan untuk merekonstruksi kehidupan keagamaan pada masa hidup Prabu Jayabaya. Bahkan tidak sedikit yang menggambarkan bahwa sosok Prabu Jayabaya tidak lain hanya sekedar tokoh fiktif belaka. Penulisan beragam versi Jangka Jayabaya pun, umumnya berasal dari masa belakangan, dimana Islam telah berkembang sebagai ajaran masyarakat. Namun hal ini penting dimengerti, terutama bagi para da’i yang berdakwah kepada kaum kebatinan dan kejawen, bahwa klaim mereka tentang Jangka Jayabaya merupakan kitab milik kaum kebatinan dan kejawen adalah salah. Sebab kitab ini sesungguhnya kitab ini dihasilkan berdasarkan pengaruh ajaran Islam.

Terkait keberadaan penganut agama Islam pada masa yang diyakini sebagai ‘Jaman’ Jayabaya, bukan merupakan persoalan yang mustahil. Prabu Jayabaya diyakini hidup pada abad XII, pada masa antara tahun 1135 dan 1157 M.[5] Sedangkan pada masa sebelumnya, yaitu era pemerintahan Erlangga, abad XI, di Leran, sekitar 8 (delapan) kilometer dari Gresik, telah ditemukan batu nisan dari makam seorang bernama Fathimah binti Maimun bin Hibatullah yang memberikan informasi bahwa wanita yang diyakini beragama Islam tersebut meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H atau tahun 1082 M.[6] Bahkan menurut Prof. Dr. Hamka jauh-jauh hari sebelumnya, dalam catatan China, disebutkan bahwa raja Arab telah mengirimkan duta untuk menyelidiki seorang ratu dari Holing (Kalingga) yang bernama Ratu Shi Ma yang diyakini telah melaksanakan hukuman had. Ratu tersebut ditahbiskan antara tahun 674-675 M. Prof. Dr. Hamka menyimpulkan bahwa raja Arab yang dimaksud adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang hidup pada masa itu dan wafat pada 680 M.[7] Demikan juga hasil kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke Indonesia menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali adalah abad I H atau abad VII-VIII M.[8]

Karya sastra yang ditulis pada masa yang diperkirakan sebagai era Jayabaya, juga memiliki kecenderungan terpengaruh oleh keberadaan ajaran Islam. Disertasi Dr. Sucipta Wiryosuparto menyebutkan bahwa Kakawin Gatutkacasraya karya Mpu Panuluh, banyak menggunakan kata-kata dari Bahasa Arab.[9] Penggunaan kosa kata Arab yang serupa juga dapat ditemukan dalam Serat Baratayuddha, karya bersama Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Tulisan pujangga yang demikian tentu tidak mungkin terjadi kecuali telah terjadi interaksi dengan penganut agama Islam. Hal ini membuktikan bahwa telah ada komunitas umat Islam di Tanah Jawa pada masa yang diyakini sebagai era Jayabaya. Dengan demikian dakwah kepada penguasa, termasuk kepada Prabu Jayabaya pun bukan merupakan perihal yang mustahil. Demikian juga tentang keislaman sang raja Jayabaya merupakan persoalan yang sangat mungkin terjadi. Apalagi Jangka Jayabaya seringkali disebut-sebut diturunkan dari sejumlah karya yang lebih tua.

SUBSTANSI JANGKA JAYABAYA

Boleh dikatakan bahwa hampir sebagian besar isi Serat Praniti Wakya berbicara tentang “masa depan” Pulau Jawa dalam visi Jayabaya. Namun bila dicermati lebih mendalam, akan nampak bahwa Serat Praniti Wakya banyak mengambil isnpirasi penulisan dari sumber-sumber Islam berupa Al Quran dan Hadits. Berita-berita tentang akhir jaman dari kedua pusaka umat Islam tersebut kemudian diolah dalam redaksi pengarang Serat Praniti Wakya (dalam hal ini diyakini sebagai karya R. Ng. Ranggawarsita). Sehingga sifat universal dari ajaran Islam tentang berita akhir jaman kemudian diterangkan dan diterapkan dalam lingkup Jawa. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar ajaaran islam dalam Serat tersebut telah mengalami proses yang disebut ‘jawanisasi’. Namun demikian, substansi Islam itu sendiri masih nampak bersifat tetap dan tidak hilang.

Simak misalnya, penuturan Jayabaya tentang kiamat. Sang Prabu menyatakan bahwa kiamat adalah “kukuting djagad lan wiji kang gumelar iki, iku tekane djajal laknat …”.[10] Sorotan lain Serat Praniti Wakya juga membahas tentang pandangan Prabu Haji Jayabaya tentang akan datangnya Yakjuja wa Makjuja[11] (Ya’juj dan Ma’juj), kiamat kubra[12] (kiamat besar), lochil ma’pule[13] (lauh al mahfudz), dan lain sebagainya.

Konsep-konsep yang termuat dalam Serat Paraniti Wakya tersebut di atas jelas tidak dapat diingkari berasal dari ajaran Islam. Deskripsi beberapa terminologi Islam dalam Praniti Wakya sebagian memang tidak bersifat lugas dan jelas. Pembabakan Jaman menjadi 3 bagian seperti jaman kaliswara, kaliyoga, dan kalisengara jelas bukan merupakan visi ajaran Islam. Demikian juga beberapa ramalan tentang ‘akan’ munculnya sejumlah kerajaan di Jawa seperti Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Kartasura, dan Surakarta. Namun hal tersebut bukan tidak dapat dijelaskan. Penjelasan pertama, sangat mungkin sang pengarang Praniti Wakya, yaitu R. Ng. Ranggawarsita bermaksud menggambarkan pemahaman sang tokoh Prabu Jayabaya secara apa adanya, yaitu seorang muslim yang masih hidup dalam atmosfer Hindhuisme. Namun dengan penjelasan kedua, hal tersebut bisa saja timbul dari pemikiran pengarang sendiri. Saat menulis sejumlah versi ramalan Jayabaya, jelas Ranggawarsita telah hidup pada masa dimana dia bisa mengikuti sejumlah perkembangan terkait jatuh bangunnya sejumlah kerajaan pada masa lampau, seperti Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan seterusnya. Penjelasan awal tersebut memiliki konsekuensi memungkinkan terjadinya pembenaran bahwa Ramalan Jayabaya memang seolah terbukti akurat. Namun mengingat bahwa tidak ada catatan pasti yang menyatakan bahwa Prabu Jayabaya merupakan sosok yang memang ‘pintar’ meramal masa depan, maka penjelasan kedua ini lebih dapat digunakan sebagai argumentasi. Sedang terkait banyaknya konsep Islam dalam ramalan Jayabaya yang kadang terlihat ‘kurang’ islami lagi, mungkin hal ini disebabkan pemahaman R. Ng. Ranggawarsita yang kurang tuntas dalam memahami Syariat Islam.

Ranggawarsita pernah belajar di Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, dibawah asuhan Kyai Hasan Bashori atau sering disebut Kyai Kasan Besari dalam lidah Jawa. Sebelum berangkat ke pondok, sebenarnya Ranggawarsita telah pandai membaca Al Quran. Oleh karena pengajaran awal di pondok Pesantren Tegalsari, adalah pelajaran tentang kajian Al Quran dan Fiqih maka Ranggawarsita menjadi jengkel. Bahkan untuk melampiaskan kekesalannya, dia sering keluar dari lingkungan pondok untuk berjudi mengadu ayam. Kyai Kasan Besari akhirnya mengetahui kekesalan Ranggawarsita, maka kepada sang Ranggawarsita kemudian diajarkan ilmu tassawuf.[14] Agaknya hal ini sangat berpengaruh terhadap pemahaman syariat Ranggawarsita pada masa selanjutnya.

Sedangkan ‘ramalan’ bersifat futuristik yang seolah memiiliki kesesuaian dengan jaman yang diramalkan, hal tersebut bukannya tidak dapat dijelaskan. Misalnya ungkapan bahwa “… Nusa Jawa bakal kinalungan wesi” (Pulau Jawa akan dikalungi besi). Sebagian penafsir memaknai ungkapan tersebut berkaitan bahwa di Jawa akan timbul industrialisasi. Ada pula yang memaknai bahwa kalung besi yang dimaksud adalah penggambaran bentuk rel kereta api. Jika penafsiran ini benar, maka perlu diketahui bahwa Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda, dimana pengaruh Belanda dalam lingkungan Keraton telah merasuk sedemikian kuatnya. Sedangkan di bumi Eropa sendiri, dimulai dari Perancis dan menyebar ke seluruh Eropa termasuk Belanda, telah mengalami Revolusi industri sehingga industrialisasi maupun transportasi darat menggunakan kereta api sudah umum keberadaannya. Cerita-cerita demikian tentu dapat didengar di wilayah Keraton yang secara intens terlibat dalam pergaulan bangsa Belanda. Sudah tentu dalam pandangan Ranggawarsita, jika Jawa berada dalam genggaman Belanda, maka tidak urung ‘kalung besi’ akan mengitari Jawa. Hal itu bisa berupa industrialisasi maupun wujud rel kereta api.

Menariknya, serat Praniti Wakya sebagai buah karya R. Ng. Ranggawarsita, mediskripsikan pandangan Prabu Jayabaya terhadap tradisi kepemimpinan pendeta. Telah banyak diketahui bahwa para pendeta dalam sistem kasta Hindhu memiliki strata kedudukan paling tinggi secara sosial. Lebih tinggi dari kasta para raja dan bangsawan yang masuk ke strata kedua, yaitu kasta Ksatria. Diceritakan bahwa setelah selesai belajar kepada Maulana ‘Ali Syamsu Zain, Prabu Jayabaya bersama putranya yang bernama Prabu Anom Jayamijaya berniat mengantar kepulangan sang guru ke negeri Rum hingga ke pelabuhan. Sepulang dari pelabuhan, Prabu Jayabaya dan putranya menyempatkan diri singgah dipertapaan seorang pendeta bernama Ajar Subrata, saudara seperguruan sang Prabu namun masih menganut ajaran Hindhu. Sang pendeta bermaksud mencobai Prabu Jayabaya yang dikenal sebagi titisan Bathara Wisnu dengan memberi suguhan berupa 7 (tujuh) jenis yaitu kunyit satu rimpang, jadah (makanan dari beras ketan ditumbuk) darah, kejar sawit, bawang putih, bunga melati, dan bunga seruni masing-masing satu takir (wadah yang dibuat dari daun pisang, biasanya untuk meletakkan sesaji).[15]

Suguhan tersebut bagi Prabu Jayabaya, memiliki makna tersandi atau arti tersembunyi yang berada disebalik suguhan tersebut. Apalagi Prabu Jayabaya dan Ajar Subrata pernah menjadi saudara seperguruan sehingga dimungkinkan mereka memiliki pengetahuan yang kurang lebih sama. Suguhan tersebut membuat sang Prabu sangat marah dan akhirnya membunuh sang pendeta sekaligus putrinya yang menjadi istri dari Prabu Anom Jayamijaya, putranya. Pasca peristiwa tersebut Jayabaya menerangkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan untuk menghukum kekurangajaran sang pendeta yang secara tersandi berniat mengakhiri kekuasaan raja-raja di Jawa. Suguhan tersebut memiliki makna bahwa jika Prabu Jayabaya memakannya maka kekuasaan akan tetap berada ditangan pendeta dan jaman baru, termasuk di dalamnya berkembangnya ajaran Islam, tidak akan pernah terjadi.

Demikianlah pandangan Serat Praniti Wakya, bahwa Prabu Jayabaya adalah titisan Wisnu yang hanya tinggal dua kali akan turun ke Marcapada. Pasca Prabu Jayabaya, dikisahkan bahwa Wisnu akan menitis di Jenggala dan setelah itu tidak akan pernah menitis kembali serta tidak memiliki tanggung jawab lagi terhadap kemakmuran ataupun kerusakan bumi maupun alam ghaib.

“… Ingsun iki pandjenenganing Wisjnu Murti[16], kebubuhan agawe rahardjaning bumi, dene panitahingsun mung kari pindo, katelu ingsun iki, ing sapungkuringsun saka Kediri nuli tumitah ana ing Djenggala, wus ora tumitah maneh, karana wus dudu bubuhan ingsun, gemah rusaking djagad, lawan kahananing wus ginaib, ingsun wus ora kena melu-melu, tunggal ana sadjroning kakarahe guruningsun, ...”[17]

Pernyataan di atas menggambarkan bahwa ajaran kedewaan dalam Hindhuisme tidak akan berlaku lagi pasca penitisan wisnu di Jenggala. Hal ini diperkuat pula bahwa pasca penitisan di Jenggala, Wisnu tidak akan memiliki tanggung jawab lagi terhadap keutuhan dunia nyata maupun dunia maya alam ghaib, termasuk alam kedewaan sekalipun. Dapat kita lihat pula bahwa pasca itu, Majapahit yang dianggap sebagai kerajaan tersohor di nusantara sekalipun ternyata sudah tidak melaksanakan ajaran Hindhu secara murni, namun menjalankan sinkertisme antara ajaran Syiwa dan Budha. Selanjutnya, jaman akan berubah menuju jaman Islam yang diisyaratkan bahwa semua keadaan akan menjadisatu dengan tongkat atau pegangan guru Jayabaya yang bernama Maulana ‘Ali Syamsu Zein. Bahkan secara tersirat Serat Praniti Wakya sebenarnya mencoba mengungkapkan bahwa Bathara Wisnu, Dewa yang masuk dalam Trimurti[18] dan memiliki tanggung jawab memelihara alam semesta, ternyata telah pula menerima ajaran Islam sebagai agamanya.

PENUTUP

Demikian sekilas gambaran tentang Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya. Kitab tersebut pada dasarnya merupakan buku yang mencoba untuk memberikan apresiasi terhadap keberadaan Islam di Pulau Jawa. Hatta, di dalamnya mengandung banyak hal-hal yang musykil dan seolah tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun dengan memandang kitab tersebut sebagai bagian dari proses dakwah di Pulau Jawa, maka perlu pula kaum muslimin mengkaji dan mengapresiasi serat tersebut. Sebab telah banyak kitab Jawa yang sebenarnya memiliki nafas Islam secara kental, namun diklaim sebagi kitab Hindhu maupun kebatinan. Hal ini sudah tentu disebabkan kepedulian umat Islam yang masih minim dan sekaligus kurangnya pengetahuan terhadap naskah-naskah lama karya pujangga. Juga mengindikasikan bahwa kajian keilmuan dikalangan umat Islam, saat ini, masih belum membudaya.

Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya, karya seorang pujangga R. Ng. Ranggawarsita, seolah merupakan bentuk sinkretis perpaduan antara Islam dan kejawen. Akan tetapi nampak bahwa ajaran Islam lebih dominan sebagai substansi. Sedangkan ‘kejawen’ sendiri terposisikan sebagai kulit luar dari bentuk pemikiran Jawa yang telah terisi dengan ruh Islam.

Selanjutnya, jika pembaca termasuk ke dalam kelompok kalangan yang mempercayai ramalan Jayabaya sebagai ramalan yang memiliki akurasi tinggi, maka bersegeralah kembali kepada Islam dan sumber-sumbernya berupa Al Quran dan Ash Shunnah. Sebab, hakikatnya “ramalan” Jayabaya merupakan bagian dari upaya memahami Islam melalui proses pencarian panjang yang belum selesai. Sedangkan bagi kalangan yang menolak sebelum mengkaji hal ini sebelumnya, maka hendaknya akan dapat mengubah sikap terhadap pemahaman hakikat segala sesuatu. Bahwa sahnya sebuah amalan adalah pasca terbitnya sebuah kepahaman mendalam.

read more...

7 pemimpin besar indonesia menurut ki Ronggowarsito

Menurut Ki Ronggowarsito, tokoh yang hidup di tahun 1800-an, akan ada tujuh pemimpin besar Negara Indonesia yang meletakkan dasar-dasar kenegaraan dan perintis jalan menuju Indonesia yang besar dan maju, yang mencapai zaman kegemilangan di segala bidang.

Ki Ronggowarsito hanya memberikan petunjuk-petunjuk berkenaan tujuh pemimpin tersebut. Tujuh pemimpin yang dimaksudkan itu adalah Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, dan Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu. Mari kita lihat satu per satu.

Yang pertama adalah SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO, atau berarti Satria yang sering di penjara (KINUNJORO) tetapi sangat terkenal dan dihormati di seluruh dunia (MURWO KUNCORO). Siapa dia? Benar. Beliau adalah Soekarno – Presiden Pertama Indonesia yang dalam masa Perjuangan Kemerdekaan sering keluar-masuk penjara karena kegigihannya melawan penjajahan, dan juga tokoh yang disegani oleh dunia karena wawasan dan keberaniannya melawan kejahatan kekuasaan dunia.

Yang kedua adalah SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR, atau berarti Satria yang mempunyai kekayaan berlebih (MUKTI), mempunyai kewibawaan yang hebat (WIBOWO), tetapi juga sering berbuat kesalahan atau terkait dengan kesalahan (KESANDUNG KESAMPAR). Siapa dia? Pak Harto kah? Anda yang menilai sendiri.

Yang ketiga adalah SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR, atau berarti Satria atau tokoh yang menjadi pemimpin karena ditunjuk atau dipungut (JINUMPUT), dan masa waktunya hanya sebentar (SUMELA ATUR). Jawaban untuk tokoh yang mengalami nasib seperti ini adalah Presiden Ketiga, Pak Habibie.

Yang keempat adalah SATRIO LELONO TAPA NGRAME, atau pemimpin yang suka mengembara atau berkeliling dunia (LELONO) dan mempunyai tingkat spiritualitas yang tinggi (TAPA NGRAME). Tidak ada tokoh lain kecuali Gus Dur.

Yang kelima adalah SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH, atau tokoh pemimpin yang muncul dengan membawa kharisma turunan dari leluhurnya (HAMNG TUWUH). Siapapun paham bahwa yang dimaksud dengan petunjuk di atas adalah Megawati Soekarno Putri.

Yang keenam adalah SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO, atau berarti tokoh yang pindah (BOYONG) dan menjadi pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (PAMBUKANING GAPURO). Siapa dia? Susilo Bambang Yudhoyono adalah jawabannya. Kita tahu bahwa SBY pernah menjadi menteri, dan kini beliau pindah atau boyong untuk menjadi seorang presiden. Meskipun banyak kekurangannya, SBY cukup berani untuk memberantas korupsi.

Dan yang terakhir adalah SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU, atau berarti tokoh yang memiliki tingkat spiritualitas sangat tinggi (PINANDITO) dan akan senantiasa bertindak atas petunjuk dari Yang Kuasa SWT (SINISIHAN WAHYU). Nah, siapa dia? Kalau melihat petunjuk ini – dan berdasar petunjuk-petunjuk sebelumnya dan berdasarkan bukti sejarah bahwa tidak ada satu petunjuk untuk dua orang sekaligus, apakah ini berarti negara Indonesia akan di pimpin oleh orang baru? Dengan kata lain SBY akan diganti? Lalu siapakah gantinya? Adakah beliau Sutiyogo?

SURATAN ATAU KEBETULAN

Secara kebetulan pula, pemimpin di kedua-dua negara yang seterusnya adalah yang ketujuh. Di Malaysia, PM ketujuh dan di Indonesia, Presiden ketujuh. Adakah kedua-dua negara ini akan dipimpin oleh orang yang sama? Benarkah seperti yang dijangkakan bahawa seluruh nusantara akan bangkit dan bergabung menjadi satu empayar besar yang bakal menggegarkan seluruh pelusuk dunia bersama bangkitnya seorang yang akan berkuasa. Siapakah beliau? Hanya Allah yang tahu…

Teori / ramalan PM di Malaysia : RAHMAN

R : Rahman

A : Abdul Razak

H : Hussein Onn

M : Mahathir

A : Abdullah

N : Najib

SEKADAR HIBURAN

Teori / ramalan Presiden di Indonesia : NOTONOGORO (”Menyusun Negara” dalam Bahasa Jawa)

Presiden yang memerintah selama 5 tahun dan ke atas (satu penggal)

NO : SukarNO

TO : SuharTO

NO : YudoyoNO

GO : SutiyoGO

RO : Iswan basRO

BUAT PEMIMPIN KAMI

(Moga Allah memeliharamu…)

Buat pemimpin yang kami sanjungi,

Moga mendapat pimpinan Ilahi,

Memerintah negara ini,

Bagi menegak kalimah yang suci,

Terima kasih kami ucapkan,

Di atas segala pengorbanan,

Negara tercinta kan kami pertahankan,

Dari ancaman segala dugaan,

Hari merdeka tak lama lagi,

Semua dari usahamu yang murni,

Tak pernah jemu menabur bakti,

Kepada bangsa dan juga pertiwi…

CINTA NEGARA
(Rasa cinta kepada Negara

Daulat Tuanku,
Ini sembah taat setia,
Dari kami pacal yang hina,
Ke bawah Duli ku serah segala,
Harta benda bahkan nyawa,

Daulat Tuanku,
Ampunkan segala dosa Hang Jebat,
Kerana cintanya pada sahabat,
Dendam kesumat terus tersemat,
Moga derita akan terubat,

Daulat tuanku,
Penderhakaan itu tak kan berulang,
Kedaulatan negara kan kami julang,
Itulah bukti sebuah ketaatan,
Pada Raja dan juga Sultan,

Daulat Tuanku,
Kedatangan Tun Perak merubah segala,
Dari Klang dia berkelana,
Menabur bakti kepada Raja,
Menyatu semua yang dalam sengketa,

Daulat Tuanku,
Sejarah ini berulang lagi,
Nama Klang subur kembali,
Hamba Klang menabur bakti,
Kepadamu wahai ibu pertiwi.

read more...

Presiden Indonesia menurut teori Joyoboyo

Konon urutan pemimpin Indonesia menuju kemakmuran adalah ”notonogoro” — urutan suku kata terakhir nama mereka. ”No” untuk Soekarno, ”to” untuk Soeharto, dan ”no” kedua buat Susilo Bambang Yudhoyono. Kini giliran “go”; maka Kivlan Zen, bekas petinggi TNI, mengubah namanya menjadi Sutiyogo untuk ikut Pilpres 2009. Bah, orang “ngelmu” kayak begini mau jadi presiden?

Majalah Tempo edisi pekan lalu menurunkan liputan utama berjudul Mimpi jadi presiden. Sejumlah tokoh sipil dan militer yang ingin jadi RI-1 diulas, salah satunya adalah Kivlan Zen. usaha Kivlan mempersiapkan dirinya menjadi presiden, yaitu dengan cara mengubah namanya agar sesuai ramalan Joyoboyo.

Pendukung Kivlan Zen percaya akan munculnya Satrio Piningit. Berbekal keris dan ramalan Joyoboyo.

Zaap…, Kivlan Zen melihat bola biru melesat ke angkasa. Tengah malam sudah lewat, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat itu sedang tirakat di emperan musala di kompleks pemakaman Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, awal Juni tahun lalu.

Kivlan, 63 tahun, telah selesai menjalani ritual nyekar di pusara sang Proklamator. ”Semoga Paduka yang Mulia diberi kelapangan di alam kubur,” kata pensiunan mayor jenderal itu menceritakan kembali pengalamannya. Bersama menantunya, ia melakukan salat malam dan kemudian tirakat.

Menurut Kivlan, ada lima peziarah lain yang menyaksikan bola biru melesat malam itu. Mereka menyebutnya lintang kemukus — dalam tradisi Jawa diyakini menjadi pertanda bakal munculnya Satrio Piningit. ”Sebulan kemudian, jam satu malam, saya bertemu dengan lintang kemukus lagi ketika naik mobil di Bintaro, Jakarta Selatan,” ujarnya.

Setahun setelah munculnya lintang kemukus itu, Kivlan mendeklarasikan diri sebagai calon presiden di Gedung Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta. Ia mengusung slogan: ”Pembaruan dan Tegas”. Jualannya pembangunan pertanian dan energi bersumber alam. Ia mengklaim punya sumber energi baru yang dinamai ”fuel cell”.

Kivlan yakin dukungan politik dan dana untuknya akan datang. Ia pun siap memperluas kewenangan otonomi daerah, termasuk hak mengelola anggaran oleh pemerintah daerah. ”Para gubernur pasti mendukung saya,” ujarnya.

Bagi Anda yang sudah lupa dengan Kivlan Zen, mari sama-sama membuka catatan lama. Kivlan dulu pernah mengaku diperintah Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Wiranto membentuk Pam Swakarsa — milisi sipil yang dipersenjatai bambu runcing untuk melawan demonstrasi mahasiswa menjelang Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat 1998. Wiranto membantah tudingan Kivlan itu dan jadilah keduanya berpolemik di media massa. Keduanya juga saling serang dengan cara menerbitkan buku.

Kini Kivlan bangkit lagi. Untuk meraih mimpinya, menurut orang dekatnya, ia mengejar dukungan hingga alam gaib. Sang calon presiden kabarnya memiliki guru spiritual bernama Ahmad Zakaria, pria 100 tahun yang mengklaim masih merupakan kerabat Keraton Yogyakarta. Kepada Kivlan, kata sumber itu, Zakaria memberikan pertanda: ”Presiden tahun depan bukan orang Jawa.” Ia pun meminta Kivlan cepat-cepat mengumumkan diri sebagai calon presiden.

Agar lebih sedap, ramalan lawas juga dibuka. Menurut teori Joyoboyo yang masyhur, urut-urutan pemimpin Indonesia menuju kemakmuran adalah ”notonogoro” — urut-urutan suku kata terakhir nama mereka. ”No” untuk Soekarno, ”to” untuk Soeharto, dan ”no” kedua buat Susilo Bambang Yudhoyono. Adapun B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri dianggap sebagai tokoh peralihan.

Nah, kini giliran yang punya nama ”go” untuk memimpin. Kivlan Zen jelas tak memenuhi syarat ini. Tapi itu tak jadi masalah. Ia sudah punya nama lain: Sutiyogo. Prosesi mengubah nama itu kabarnya telah dilakukan sebulan lalu.

Saat dimintai konfirmasi soal itu, Kivlan tak membantahnya. Ia berujar, ”Saya memang suka ngelmu, sejak berlatih silat ketika kelas II SMA di Medan.” Di mana pun bertugas ketika masih aktif di militer, ia mengaku selalu berguru kepada ulama. ”Saya pengikut tarekat Naqsabandiah.”

Satu lagi senjata pamungkas Kivlan: keris tujuh lekuk setengah meter dari besi kuning. Keris itu diberi nama Satrio P. Saat ditanyai apakah P itu merupakan singkatan dari ”Piningit”, Kivlan tangkas menjawab, ”Biar saja orang lain yang menafsirkan, nanti geger Indonesia.”

read more...

Sepenggal bait syair Joyoboyo

:: banyak orang tahu dan mengenal siapa pangeran joyoboyo, bahkan ada juga orang yang mengaitkan setiap prilaku dengan syair-syair joyoboyo. Jangan diliat siapa itu Joyoboyo dan bagaimana pandangan orang, mungkin masih ada hikmah yang bisa kita ambil.berikut syair-syair joyoboyo dari sumbernya::

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.


Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah Jawa berkalung besi.

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu berlayar di ruang angkasa..

Kali ilang kedhunge.
Sungai kehilangan lubuk.

Pasar ilang kumandhang.
Pasar kehilangan suara.

Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat..

Bumi saya suwe saya mengkeret.
Bumi semakin lama semakin mengerut..

Sekilan bumi dipajeki.
Sejengkal tanah dikenai pajak.

Jaran doyan mangan sambel.
Kuda suka makan sambal.

Wong wadon nganggo pakeyan lanang.
Orang perempuan berpakaian lelaki.

Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik.

Akeh janji ora ditetepi.
Banyak janji tidak ditepati.

Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe.
Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.

Manungsa padha seneng nyalah.
Orang-orang saling lempar kesalahan.

Ora ngendahake hukum Allah.
Tak peduli akan hukum Allah.

Barang jahat diangkat-angkat.
Yang jahat dijunjung-junjung.

Barang suci dibenci.
Yang suci (justru) dibenci.

Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.
Banyak orang hanya mementingkan uang.

Lali kamanungsan.
Lupa jati kemanusiaan.

Lali kabecikan.
Lupa hikmah kebaikan.

Lali sanak lali kadang.
Lupa sanak lupa saudara.

Akeh bapa lali anak.
Banyak ayah lupa anak.

Akeh anak wani nglawan ibu.
Banyak anak berani melawan ibu.

Nantang bapa.
Menantang ayah.

Sedulur padha cidra.
Saudara dan saudara saling khianat.

Kulawarga padha curiga.
Keluarga saling curiga.

Kanca dadi mungsuh.
Kawan menjadi lawan.

Akeh manungsa lali asale.
Banyak orang lupa asal-usul.

Ukuman Ratu ora adil.
Hukuman Raja tidak adil

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Banyak pembesar jahat dan ganjil

Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak ulah-tabiat ganjil

Wong apik-apik padha kapencil.
Orang yang baik justru tersisih.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
Banyak orang kerja halal justru malu.

Luwih utama ngapusi.
Lebih mengutamakan menipu.

Wegah nyambut gawe.
Malas menunaikan kerja.

Kepingin urip mewah.
Inginnya hidup mewah.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.

Wong bener thenger-thenger.
Si benar termangu-mangu.

Wong salah bungah.
Si salah gembira ria.

Wong apik ditampik-tampik.
Si baik ditolak ditampik.

Wong jahat munggah pangkat.
Si jahat naik pangkat.

Wong agung kasinggung.
Yang mulia dilecehkan

Wong ala kapuja.
Yang jahat dipuji-puji.

Wong wadon ilang kawirangane.
Perempuan hilang malu.

Wong lanang ilang kaprawirane.
Laki-laki hilang perwira

Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Banyak perempuan ingkar pada suami.

Akeh ibu padha ngedol anake.
Banyak ibu menjual anak.

Akeh wong wadon ngedol awake.
Banyak perempuan menjual diri.

Akeh wong ijol bebojo.
Banyak orang tukar pasangan.

Wong wadon nunggang jaran.
Perempuan menunggang kuda.

Wong lanang linggih plangki.
Laki-laki naik tandu.

Randha seuang loro.
Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).

Prawan seaga lima.
Lima perawan lima picis.

Dhudha pincang laku sembilan uang.
Duda pincang laku sembilan uang.

Akeh wong ngedol ngelmu.
Banyak orang berdagang ilmu.

Akeh wong ngaku-aku.
Banyak orang mengaku diri.

Njabane putih njerone dhadhu.
Di luar putih di dalam jingga.

Ngakune suci, nanging sucine palsu.
Mengaku suci, tapi palsu belaka.

Akeh bujuk akeh lojo.
Banyak tipu banyak muslihat.

Akeh udan salah mangsa.
Banyak hujan salah musim.

Akeh prawan tuwa.
Banyak perawan tua.

Akeh randha nglairake anak.
Banyak janda melahirkan bayi.

Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
Banyak anak lahir mencari bapanya.

Agama akeh sing nantang.
Agama banyak ditentang.

Prikamanungsan saya ilang.
Perikemanusiaan semakin hilang.

Omah suci dibenci.
Rumah suci dijauhi.

Omah ala saya dipuja.
Rumah maksiat makin dipuja.

Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Di mana-mana perempuan lacur

Akeh laknat.
Banyak kutuk

Akeh pengkianat.
Banyak pengkhianat.

Anak mangan bapak.
Anak makan bapak.

Sedulur mangan sedulur.
Saudara makan saudara.

Kanca dadi mungsuh.
Kawan menjadi lawan.

Guru disatru.
Guru dimusuhi.

Tangga padha curiga.
Tetangga saling curiga.

Kana-kene saya angkara murka.
Angkara murka semakin menjadi-jadi.

Sing weruh kebubuhan.
Barangsiapa tahu terkena beban.

Sing ora weruh ketutuh.
Sedang yang tak tahu disalahkan.

Besuk yen ana peperangan.
Kelak jika terjadi perang.

Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.

Akeh wong becik saya sengsara.
Banyak orang baik makin sengsara.

Wong jahat saya seneng.
Sedang yang jahat makin bahagia.

Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul.
Ketika itu burung gagak dibilang bangau.

Wong salah dianggep bener.
Orang salah dipandang benar.

Pengkhianat nikmat.
Pengkhianat nikmat.

Durjana saya sempurna.
Durjana semakin sempurna.

Wong jahat munggah pangkat.
Orang jahat naik pangkat.

Wong lugu kebelenggu.
Orang yang lugu dibelenggu.

read more...