Tampilkan postingan dengan label islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islamic. Tampilkan semua postingan

KETENTUAN DATANGNYA MASA KEHANCURAN ALAM

“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang yang mati (hati nuraninya) mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli (hati nuraninya ada tutupan) mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling ke belakang”.

Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (dengan hidayah) orang-orang yang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorang pun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami lalu mereka berserah diri” (QS. An Naml: 80-81).

Ketentuan masa kehancurannya alam sebagaimana diberitakan wahyu dari Allah dalam QS. An Naml ayat 82.

Adalah wujud nyata diberlakukannya sunnatul awwalin.

Yakni diturunkannya siksa sebagaimana yang diberlakukan pada orang-orang terdahulu. Dilenyapkan dari permukaan bumi karena mendustakan mengadanya Rasul dan ajarannya, dengan kesombongannya dan dengan rencananya yang jahat. (QS. Faathir ayat 43).

“Dan apabila perkataan (ketentuan datangnya masa kehancuran alam untuk melenyapkan semua yang batal) telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan buat mereka (yang berimannya benar-benar ma’rifatun wa tashdiqun tetap yakin atas ayat-ayat Allah yang menjelaskan mengadanya Hak MutlakNya) dabbah dari bumi (Nya Allah) yang akan mengatakan kepada mereka (yang selamat karena tetap kokohnya keyakinan mereka terhadap mengadanya kebenaran Hak MutlakNya Allah), bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin ayat-ayat Kami” (QS. An Naml ayat 82).

Mereka yang dilenyapkan dengan datangnya masa kehancuran alam,

Adalah mereka yang sudah sama sekali tidak yakin kepada ayat-ayat Allah.

Ayat-ayat Allah yang jumlahnya 30 juz yang tidak ada keraguan kebenaran isinya, adalah hidayah bagi orang-orang yang bertaqwa.

Sama sekali tidak yakin bahwa bertaqwa kepada Allah itu ada syaratnya.

Sarat pertama: alladzina yu’minuna bi al-Ghaybi, dan seterusnya.

Tidak yakin dengan perintah Allah: Wa aqimishshalata lidzikri.

Tidak yakin mengadanya firman Allah: Wadzkur Rabbaka fi nafsika..dst (QS.7:25).

Tidak yakin firman Allah: Wayuhadzdzirukumullah nafsahu. (QS.3:28 dan 30).

Tidak yakin fi rasulillah uswatun hasanah isim nakirah.

Tidak yakin bahwa mengadanya rasul min anfusikum. Dari jati dirimu sendiri (QS.9:128).

Tidak yakin perintah Allah: Irji’i ilaa Rabbiki radhiyatan mardhiya..…

Tidak yakin kandungan surat al Ikhlas: Qul Huwa Allahu ahad…..

Tidak yakin mengadanya firman Allah dalam QS. Saba: 51, 52, 53, 54.

Tidak yakin bahwa: an lau kaanuu ya’lamuuna al-Ghayba maa labitsuu fi al ‘adzabi al muhin (QS. Saba` 14).

Tidak yakin terhadap firman Allah bahwa: Wa’lamuu anna fikum rasulallah (QS. al Hujurat ayat 7).

Tidak yakin terhadap firman Allah dalam QS. Al An’am 89.

Tidak yakin terhadap firman Allah dalam QS. Al Jin ayat 26, 27, 28.

Tidak yakin kebenaran firman Allah dalam QS. Ali Imran 101.

Tidak yakin kebenaran firman Allah dalam QS. Ar Rum ayat 30, 31, 32.

Tidak yakin bahwa Likulli ja’alnakum syir’atan wa minhajan (QS. 5:48).

Tidak yakin sama sekali terhadap ayat: Wabtaghuu ilaihi al wasilata dan apalagi wakadzalika ja’alnakum ummatan wasathan (QS.2:143).

Sama sekali tidak yakin bahwa ayat-ayat Allah adalah Nur-Nya. Cahaya DiriNya. Termasuk jagad raya dengan segala isinya adalah Nur-Nya.

Nur-Nya adalah Nur Muhammad (disimpan Allah dalam rasa). Manabisa mengenalinya kalau tidak bertanya kepada rasul yang diutus mewakili Diri-Nya?

Dimunculkannya Al-Mahdi yang selalu didabbahkan Allah oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW dituturkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Al Hakim, At Tarmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, Ibnu Adli, Adh Dhahabi, Abu Asy Syeikh.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra dia berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang sekelompok anak-anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Maka tatkala terlihat akan mereka, kedua mata Rasulullah SAW berlinang air mata dan wajah beliau berubah. Aku pun bertanya: “Mengapakah kami melihat wajahmu sesuatu yang tidak kami sukai?

Beliau menjawab: “Kami ahlul bait telah Allah Swt pilih untuk kami akherat lebih dari pada dunia. Dan sungguh ahlul baitku akan menerima bencana penyingkiran dan pengusiran sepeninggalku kelak sampai datangnya suatu kaum dari sebelah timur yang bersama mereka panji-panji berwarna hitam.

Mereka meminta Al-Haq (Nya untuk didakwahkan dan digelar) tetapi tidak diberikan. Maka mereka pun berjuang (yuqaatilunna = dengan memerangi nafsunya supaya selalu berada di jalan Allah) dan memperoleh pertolongan, lalu diberikanlah apa yang mereka minta (mendakwahkan dan nggelar Al-HaqNya Allah), tetapi mereka tidak menerimanya, hingga mereka menyerahkannya kepada seseorang dari ahlul baitku yang memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana bumi dipenuhi dengan kedurjanaan. Siapa di antara kamu yang sempat menemuinya maka datangilah mereka walaupun harus merangkak di atas salju. Sesungguhnya dia adalah Al-Mahdi”.

Para wakilnya Junjungan Nabi Muhammad SAW yang hak dan sah yang tugas pokoknya sebagaimana yang beliau laksanakan selaku Wasithah (mempertemukan fitrah jati diri manusia dengan FitrahNya Allah Swt di dalam rasa, di satu titik: Nur Muhammad), agar hati nurani roh dan rasanya berfungsi untuk senantiasa mencahaya dengan Diri-Nya Dzat Al-Ghayb Yang mutlak WujudNya, Allah namaNya, supaya dijadikan tujuan tempat kembali, ternyata selalu menerima bencana. Difitnah. Diusir, didustakan dan bahkan dibunuh. Hingga seorang Wasithah, Imam Muhammad Al-Baqir menetapkan tonggak attakiyah. Menyimpan paham demi keselamatan. Oleh Allah didabbahkan. Disembunyikan di bumiNya. Sampai datangnya suatu kaum dari sebelah timur yang bersama mereka panji-panji berwarna hitam.

Panji-panji adalah simbul keabadian. Adalah ilmu yang mempertemukan fitrah jati diri manusia dengan tempat asal diciptakan. Yakni FitrahNya Allah Swt. Adalah kaum yang dipimpin oleh Bapak Kyai Imam Mursyid Muttaqin. Kaum yang berwasithah (ummatan wasathan).

Kaum ini memohon agar diizinkan untuk mendakwahkan dan nggelar Al-HaqNya Allah Swt (dengan cara terbuka), tetapi oleh Allah tidak diberi izin. Belum saatnya atau belum zamannya. Sebab Bapak Kyai Imam Mursyid Muttaqin tugas pokoknya adalah melahirkan kehendak Allah Swt supaya dijadikan cita-cita.

Cita-cita itu adalah gumelarnya Ilmu Syathariyah dengan pendidikannya merata ke seluruh Indonesia hingga ke seluruh dunia sampai jebating jagad. Dan Indonesia yang menjadi pusat gumelarnya cita-cita supaya oleh Allah dijadikan Negara Islam yang sejati, merdeka yang sejati lahir batin sampai jebating jagad.

Cita-cita itu supaya berhasil diserahkan beliau kepada seorang murid beliau yang telah dipersiapkan (sejak usia kanak-kanak) oleh Bapak Kyai Hassan Ulama’, yaitu Bapak Kyai Muhammad Kusnun Malibari, yang oleh Bapak Kyai Imam Mursyid disebut sebagai satu-satunya orang sejagad yang hatinya selalu bening.

“Lega atiku yen kowe gelem ndonga (memperjuangkan cita-citanya). Awit wong sak jagad iki sing atine ajeg bening amung kowe. Yen kowe gelem ndonga, cita-citaku mesti bakal kasil”.

Perjuangan dengan cara yuqaatilunna fi sabilihi dengan tapa brata habis-habisan dilaksanakan oleh Bapak Kyai Muhammad Kusnun Malibari apalagi setelah beliau memperoleh pelimpahan dari gurunya (Bapak Kyai Imam Mursyid Muttaqin) bahwa: “iki detik, iki saat, iki jam, iki wektu lan iki dina, kersanE Gusti Allah kowe mulai kewajiban ngilangi kebodohane seluruh dulur umat Islam bisane pada ma’rifat maring Allah. Wis masa bodoa aku kari sak derma nglahirake”.

Perjuangan beliau (Bapak Kyai Muhammad Kusnun Malibari) memperoleh pertolongan Allah. Artinya dimulainya gumelar. Tetapi wujud secara nyata gumelar itu ketika diberikan kepada beliau, tidak siap menerima karena menyadari usianya yang makin menua.

Kemudian diserahkan kepada yang ditugasi meneruskan tugas dan kewajibannya dalam rangka mewakili tugas dan kewajiban Junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai rasulNya, kepada salah seorang murid yang dirasa telah cukup dipersiapkan untuk itu. Kebetulan sekali adalah saya sendiri.

Oleh beliau dibekali berbagai hal berkaitan dengan tugas dan kewajiban yang harus saya kerjakan.

Seperti tanda terakhir saat dekatnya gumelar diwujudkan. Apabila beribu-ribu orang meminta petunjuk ilmu, caranya demikian. Dan apabila telah sampai pada kewajiban nata negara, caranya demikian. Dan bahkan seluruh dunia akan benar-benar tata tentrem apabila penerusan Wasithah pada anak saya yang nomer tiga. Termasuk masa kehancuran alam yang melenyapkan semua yang batal, seandainya diratakan, yang tersisa, artinya yang selamat, satu pal satu orang. Hanya saja nanti gerombol-gerombol.

Berita dari Allah Swt perihal kemunculan Al-Mahdi yang dijumenengkan Ratu Adil di tanah Jawa telah diterima sejak Wasithah dipegang oleh Nyai Ageng Hardjo Besari. Dalam rantai silsilah urutan ke 42. Lenggah di Tegalrejo Magetan. Ngasta Wasithah lebih kurang dari tahun 1854-1876 M.

Yaitu ketika pada suatu malam atas kehendak dan izin Allah beliau didatangi oleh rohnya Ratu Adil yang akan dijumenengkan Allah di tanah Jawa, dengan menaiki kuda yang putih berseri warnanya.

Beliau lalu memanggil bakal penerusnya (Kyai Hassan Ulama’) dan berkata: “San, dek mau bengi rohe Ratu Adil sing bakal jumeneng ana tanah Jawa rawuh mrene. Lenggah ing duwur meja iki. Aku lungguh ana kursi iki, njur ngelus-ngelus rambutku karo dawuh: “Kowe ki lo wadon ngono kok drajat kewalianmu luwih-luwih”.

Anu San, ngersakake mundut tombak Kyai Sapu Jagad. Coba delengen ing jero lemari iku”.

“Inggih mbok mboten wonten”.

“Ya, yen ngono pancen ya dipundut tenan”.

“Saiki ngene San, ing rehne tak pandeng rohe Ratu Adil sing bakal jumeneng ing tanah Jawa iku rohmu dewe, mula tapanana”.

Oleh mBah Kyai Hassan Ulama’ lalu ditapani selama tiga tahun.

Maksud “rohmu dewe” adalah roh yang sama-sama berada pada maqam hakekat. Sehingga Ratu adalah Rohnya menyatu dengan satu-satuNya Dzat Yang Maha Adil.

Karena itulah, hakekatnya, Ratu Adil itu adalah Tuhan sendiri. Demikian halnya dengan Imam Mahdi, adalah Tuhan sendiri. Hanya karena Dia adalah Dzat Yang Al-Ghayb lalu mengutus hamba yang dikehendaki untuk mewakili.

Penjelasan seperti ini sebelum nyata wujud gumelarnya cita-cita, masih hanya untuk kalangan sendiri. Ngati-ngati. Bukan berarti takut berterus terang. Akibatnya seperti ungkapan ngerah iwak urung kepara kena, nanging tiwas buthek banyune………

read more...

Yayasan islam pondok pesantren Daud Kholifatulah

P1080426

foto ilustrasi






Nama Pesantren:











yayasan islam pondok pesantren daud kholifatulah
Pengasuh:H. Ir. Anang Sulistyo Muhtadi
H. Ir. Anang Sulistyo Muhtadi
Alamat:Ds. SEMEN Kec. NGUNTORONADI KAB. MAGETAN. JAWA TIMUR
Propinsi:Jawa_Timur
Contact:Telp:
Fax:
Email:
Website:
Keterangan:Menerima:Putra
Deskripsi:PENGUMUMAN No.20/YIDK/XII/V/2007 يد١ود١ناجعلنك خليفة في١لارض فاحكم بين١لناس بالحق “Hai Daud…!Sesungguhnya Kami menjadikan kamu kholifah (penguasa) di muka bumi. Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan haq.” (QS.Shod:26) I.PENDAHULUAN Untuk mengembangkan syiar dan tarbiyah ad-dienul islam seluas-luasnya agar yayasan mampu mencetak sebanyak-banyaknya kader umat yang bijaksana, luas dan tinggi kefahamannya tentang dienul islam serta rajin berbakti dan beramal kepada pribadi, keluarga, golongan dan umat, berdasarkan taqwa (takut dan tunduk, taat dan patuh) pada Allah SWT. Sehingga menjadi anggota masyarakat yang berilmu (intelektual) beramal dan bertaqwa. II.PROFIL PONPES Ponpes ini didirikan sejak tahun 2000 dengan mengacu pada Al-Quran & alhadits, beraqidah ahlusunnah waljamaah, sampai saat ini beberapa alumni dari tingkat aliyyah telah diterima di Universitas Al Azhar Cairo Mesir, UII & universitas lainnya, yang semuanya dibiayai oleh yayasan. Selain ilmu-ilmu agama, formal dan non formal santri-santri yang belajar ditingkat MTS & MA di didik dalam kesederhanaan tetapi mandiri dengan dibekali ketrampilan seperti pertanian, peternakan, perikanan, pertukangan, pertokoan dan home industri dll, sehingga lulusan ponpes bisa menjadi muslim yang mandiri, berilmu dan bertaqwa III. PROGRAM PENDIDIKAN 1. Madrasah Diniyah 3. Madrasah Aliyah 2. Madrasah Tsanawiyah 4. Perguruan Tinggi IV. SISTEM PENDIDIKAN *. Sistem pendidikan dilaksanakan 24 jam. *. Semua santri diasramakan. *. Sistem pendidikan formal dan non formal *. Memasukkan ilmu pengetahuan umum di pondok disamping pengajaran syari’at ad Dienul Islam. V. TEMPAT PENDIDIKAN Tempat pendidikan dan asrama dalam satu lokasi yaitu Ds.Semen, Kec. Nguntoronadi, Kab. Magetan, Jatim, kode pos 63383 VI. BIAYA PENDIDIKAN Semua biaya pendidikan ditanggung oleh Yayasan Islam Daud Kholifatulloh. VII. FASILITAS PENUNJANG 1. Gedung milik sendiri 2. Asrama 3. Olahraga Santri : (Sepak bola, Bulu tangkis, Tennis meja, Volley dll ) 4. Pelatihan dalam hal berwiraswasta dan berbisnis untuk kemandirian santri. 5. Dalam menghadapi era globalisasi kehidupan zaman sekarang dan masa depan yang cerah. VIII. SYARAT PENDAFTARAN 1. Laki-laki 2. Mengisi formulir pendaftaran 3. Menyerahkan foto copy STTB/Ijazah SD/MI/SMP/MTS 4. Menyerahkan pas photo hitam putih 3X4 = 3 lembar dan 4X6 = 3 lembar 5. Menaati peraturan pondok pesantren 6. Surat izin orang tua dan kelurahan 7. Bersungguh-sungguh IX. TEMPAT PENDAFTARAN 1. Sekretariat Daud Kholifatulloh Ds,Takeran Kec. Takeran, Kab. Magetan. 2. Pondok pesantern Daud Kholifatulloh Jl.Raya Semen, Nguntoronadi, Magetan, JawaTimur X. LAIN-LAIN Keterangan lebih lanjut dapat diperoleh ditempat pendaftaran, dan kami mohon agar pengumuman ini bisa disebar luaskan kepada masyarakat yang lebih luas. YAYASAN ISLAM DAUD KHOLIFATULLOH KEP. MEN. KUM.DAN HAM RI No. C – 2541.HT.01.02.TH. 2007 PUSAT : PONDOK PESANTREN MODERN DAUD KHOLIFATULLOH Ds. SEMEN Kec. NGUNTORONADI KAB. MAGETAN. MA’HAD’ALY DAUD KHOLIFATULLOH Ds. TAKERAN Kec. TAKERAN KAB. MAGETAN. MADRASAH ALIYAH DAUD KHOLIFATULLOH Ds. KEDUNGPANJI Kec. LEMBEYAN KAB. MAGETAN. MADRASAH DINIYAH / TPQ DAUD KHOLIFATULLPH Ds. SEMEN Kec. NGUNTORONADI KAB. MAGETAN. TAMAN KANAK-KANAK ISLAM / RA DAUD KHOLIFATULLOH Ds. PLANGKRONGAN Kec. PONCOL KAB. MAGETAN. CABANG : 1.CABANG MADIUN PONDOK PESANTREN MODERN DAUD KHOLIFATULLOH Ds. Kalisanten Kwc. Dagangan. Madiun Tpq Daud Kholifatulloh Ds. Kalisanten Kec. Dagangan. Madiun. 2.CABANG NGANJUK TPQ DAUD KHOLIFATULLOH Ds. Pecuk Kec. Patiharowo Kab. Nganjuk 3.CABANG BANJARBARU MADRASAH DINIYAH / TPQ DAUD KHOLIFATULLOH Kelurahan Bangkal Kec. Cempaka Kab. Banjarbaru Kal - Sel 4.CABANG SAMARINDA PONDOK PESANTREN MAHASISWA DAUD KHOLIFATULLOH Jl. Cendana No. 59 Samarinda 5.CABANG MAKASAR MADRASAH DINIYAH / TPQ DAUD KHOLIFATULLOH Makasar Sul – Sel 6.CABANG PADANG PONDOK PESANTREN SALAFIYAH DAUD KHOLIFATULLOH Kel. Gurun Laweh Kec. Nanggalo Padang 7.CABANG BATAM. PONDOK PESANTREN MAHASISWA DAUD KHOLIFATULLOH Batu Aji Batam Kepulauan Riau PONDOK PESANTREN SALAFIYAH DAUD KHOLIFATULLOH Batu Aji Batam Kepulauan Riau MADRASAH DINIYAH / TPQ ALHIDAYAH DAUD KHOLIFATULLOH Batu Aji Batam Kepulauan Riau MADRASAH IBTIDA’IYAH AN – NI’MAH DAUD KHOLIFATULLOH Kel. Sei. Pelunggut Kec. Sagulung Batam Kepulauan Riau 8.CABANG TARAKAN PONDOK PESANTREN DAUD KHOLIFATULLOH Ds..MAMBURUNGAN Kec. TARAKAN TIMUR Kal – Tim 9.CABANG KARIMUN TKQ/TPQ DAUD KHOLIFATULLOH Kel. Sei. Lakam. Kec. Karimun Kab. Karimun.
read more...

Mengenal arti Kata “Islam dan Shalom”

[simbol+islam.jpg]

Tuding-menuding antara sesama pemeluk agama dalam mentahdid (mendefinisikan) dan mentashaurkan (mendeskripsikan) arti “damai, sejahtera” kerap berdampak pada permusuhan abadi yang lahir dari suatu keta’ashuban (fanatic) yang berlebihan terhadap pandangan tekstual masing-masing. Jika dicermati tujuan dan inti ajaran semua agama maka akan ditemukan suatu titik kesamaan tujuan dan ajaran yaitu mentauhidkan “Ilah” dan mensucikan serta menyelamatkan diri atau perbuatan dari hal-hal yang dapat memusyrikkan-Nya dengan suatu apapun.

Kalangan Islam dan Kristiani berdebat tentang asal muasal kata”Damai, sejahtera” yang mana jika dikembalikan pada sejarah pembentukkan (rumpun) bahasa, maka jelas diantara bahasa Arab dan Ibrani berada pada suatu rumpun Saamiyah yang mempunyai beberapa persamaan kata. Misalnya, kata “Tuhan” dalam Ibrani adalah “El”, dalam bahasa Arab “Ilah”. Kata “Ismael atau Samuel” dalam bahasa Arab “Yasma’allah”. Kata “Bethlehem” sama dengan “Bayt Lahm” dalam bahasa Arab. Dst. Begitu pula dengan kata “Islam dan Shalom”.

Kata “Islam” berasal dari bahasa Arab yang asal katanya adalah “Salama atau Salima” yang berarti : “Berserah diri, Menerima, Damai, Selamat dan Sejahtera”. Diantara semua makna yang terkandung padanya memiliki korelasi antara satu dengan yang lainnya, berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan dan menerima segala yang diperintahkan maupun yang dilarang maka seorang hamba akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan damai karena ia tidak rakus akan dunia maupun pandangan-pandangan piciknya sehingga ia tergolong orang yang selamat dan akan meraih kesejahteraan di dunia maupun di akherat.

Kata “Shalom” didefinisikan secara bahasa oleh Lexicon Ibrani berarti “Damai, Selamat, Sejahtera”. Antara kedua bahasa ini memiliki kesinoniman makna. Namun keta’ashuban yang berlebihan dalam memahami siapakah yang ada terlebih dahulu dan siapakah yang paling benar, yang mana kesimpulan akhirnya adalah memvonis sebagai suatu kesalahan dan permusuhan.

Ajaran-ajaran diantara kedua agama samawi ini jelas memiliki kesamaan tujuan dan tata cara peribadatan untuk merealisasikan tujuan. Yang salah bukan pada ajaran agama melainkan cara dalam beragama yang merupakan kekeliruan penafsiran terhadapa ajaran agama tersebut. Jika ajaran-ajaran agama dilaksanakan dengan baik maka kedamaian dan kesejahteraan baik di dunia maupun di kehiupan ukhrawi kelak akan membuahkan kesejahteraan dan keselamatan.


read more...

Sekilas singkat Toriqoh Syattariyah

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEsJx3RsQCC4NN1eYLoYCMm2iqt4OdqxLAzXX-a-xLTyrpuZMkCMGW57fBSQIjOXShzyIyWp_injb8uMzdSfOxMPihV_yNi2ZFnyMx1RoPCoR8xwqVu1u5rHKkmSXQ1WADBWpQhvU-qnw/s320/p1010212.jpg

Telaga Sarangan , Magetan jawa timur, Indonesia

Tarekat Syattariyah

Tarekat Syattariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15. Tarekat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Abdullah asy-Syattar.

Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bistamiyah.

Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid al-Isyqi, yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktik.

Hanya sedikit yang dapat diketahui mengenai Abdullah asy-Syattar. Ia adalah keturunan Syihabuddin Suhrawardi. Kemungkinan besar ia dilahirkan di salah satu tempaat di sekitar Bukhara. Di sini pula ia ditahbiskan secara resmi menjadi anggota Tarekat Isyqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif.

Nisbah asy-Syattar yang berasal dari kata syatara, artinya membelah dua, dan nampaknya yang dibelah dalam hal ini adalah kalimah tauhid yang dihayati di dalam dzikir nafi itsbat, la ilaha (nafi) dan illallah (itsbah), juga nampaknya merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapainya yang kemudian membuatnya berhak mendapat pelimpahan hak dan wewenang sebagai Washitah (Mursyid). Istilah Syattar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi setelah Akhyar dan Abrar. Ketiga istilah ini, dalam hierarki yang sama, kemudian juga dipakai di dalam Tarekat Syattariyah ini. Syattar dalam tarekat ini adalah para sufi yang telah mampu meniadakan zat, sifat, dan af’al diri (wujud jiwa raga).

Namun karena popularitas Tarekat Isyqiyah ini tidak berkembang di tanah kelahirannya, dan bahkan malah semakin memudar akibat perkembangan Tarekat Naksyabandiyah, Abdullah asy-Syattar dikirim ke India oleh gurunya tersebut. Semula ia tinggal di Jawnpur, kemudian pindah ke Mondu, sebuah kota muslim di daerah Malwa (Multan). Di India inilah, ia memperoleh popularitas dan berhasil mengembangkan tarekatnya tersebut.

Tidak diketahui apakah perubahan nama dari Tarekat Isyqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India ataukah atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya (1428).

Sepeninggal Abdullah asy-Syattar, Tarekat Syattariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya, terutama Muhammad A’la, sang Bengali, yang dikenal sebagai Qazan Syattari. Dan muridnya yang paling berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Tarekat Syattariyah sebagai tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghaus dari Gwalior (w.1562), keturunan keempat dari sang pendiri. Muhammad Ghaus mendirikan Ghaustiyyah, cabang Syattariyah, yang mempergunakan praktik-praktik yoga. Salah seorang penerusnya Syah Wajihuddin (w.1609), wali besar yang sangat dihormati di Gujarat, adalah seorang penulis buku yang produktif dan pendiri madrasah yang berusia lama. Sampai akhir abad ke-16, tarekat ini telah memiliki pengaruh yang luas di India. Dari wilayah ini Tarekat Syatttariyah terus menyebar ke Mekkah, Madinah, dan bahkan sampai ke Indonesia.

Tradisi tarekat yang bernafas India ini dibawa ke Tanah Suci oleh seorang tokoh sufi terkemuka, Sibghatullah bin Ruhullah (1606), salah seorang murid Wajihuddin, dan mendirikan zawiyah di Madinah. Syekh ini tidak saja mengajarkan Tarekat Syattariah, tetapi juga sejumlah tarekat lainnya, sebutlah misalnya Tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian Tarekat ini disebarluaskan dan dipopulerkan ke dunia berbahasa Arab lainnya oleh murid utamanya, Ahmad Syimnawi (w.1619). Begitu juga oleh salah seorang khalifahnya, yang kemudian tampil memegang pucuk pimpinan tarekat tersebut, seorang guru asal Palestina, Ahmad al-Qusyasyi (w.1661).

Setelah Ahmad al-Qusyasyi meninggal, Ibrahim al Kurani (w. 1689), asal Turki, tampil menggantikannya sebagai pimpinan tertinggi dan penganjur Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal di wilayah Madinah.

Dua orang yang disebut terakhir di atas, Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani, adalah guru dari Abdul Rauf Singkel yang kemudian berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah di Indonesia. Namun sebelum Abdul Rauf. Telah ada seorang tokoh sufi yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap ajaran Syattariyah yang berkembang di Nusantara lewat bukunya Tuhfat al-Mursalat ila ar Ruh an-Nabi, sebuah karya yang relatif pendek tentang wahdat al-wujud. Ia adalah Muhammad bin Fadlullah al-Bunhanpuri (w. 1620), juga salah seorang murid Wajihuddin. Bukunya, Tuhfat al-Mursalat, yang menguraikan metafisika martabat tujuh ini lebih populer di Nusantara ketimbang karya Ibnu Arabi sendiri. Martin van Bruinessen menduga bahwa kemungkinan karena berbagai gagasan menarik dari kitab ini yang menyatu dengan Tarekat Syattariyah, sehingga kemudian murid-murid asal Indonesia yang berguru kepada al-Qusyasyi dan Al-Kurani lebih menyukai tarekat ini ketimbang tarekat-tarekat lainnya yang diajarkan oleh kedua guru tersebut. Buku ini kemudian dikutip juga oleh Syamsuddin Sumatrani (w. 1630) dalam ulasannya tentang martabat tujuh, meskipun tidak ada petunjuk atau sumber yang menjelaskan mengenai apakah Syamsuddin menganut tarekat ini. Namun yang jelas, tidak lama setelah kematiannya, Tarekat Syattariyah sangat populer di kalangan orang-orang Indonesia yang kembali dari Tanah Arab.

Abdul Rauf sendiri yang kemudian turut mewarnai sejarah mistik Islam di Indonesia pada abad ke-17 ini, menggunakan kesempatan untuk menuntut ilmu, terutama tasawuf ketika melaksanakan haji pada tahun 1643. Ia menetap di Arab Saudi selama 19 tahun dan berguru kepada berbagai tokoh agama dan ahli tarekat ternama. Sesudah Ahmad Qusyasyi meninggal, ia kembali ke Aceh dan mengembangkan tarekatnya. Kemasyhurannya dengan cepat merambah ke luar wilayah Aceh, melalui murid-muridnya yang menyebarkan tarekat yang dibawanya. Antara lain, misalnya, di Sumatera Barat dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhanuddin dari Pesantren Ulakan; di Jawa Barat, daerah Kuningan sampai Tasikmalaya, oleh Abdul Muhyi. Dari Jawa Barat, tarekat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sulewasi Selatan disebarkan oleh salah seorang tokoh Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal dan juga murid langsung dari Ibrahim al-Kurani, Yusuf Tajul Khalwati (1629-1699).

Martin menyebutkan bahwa sejumlah cabang tarekat ini kita temukan di Jawa dan Sumatera, yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Tarekat ini, lanjut Martin, relatif dapat dengan gampang berpadu dengan berbagai tradisi setempat; ia menjadi tarekat yang paling “mempribumi” di antara berbagai tarekat yang ada. Pada sisi lain, melalui Syattariyah-lah berbagai gagasan metafisis sufi dan berbagai klasifikasi simbolik yang didasarkan atas ajaran martabat tujuh menjadi bagian dari kepercayaan populer orang Jawa.

Ajaran dan Dzikir Tarekat Syattariyah
Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Penganut Tarekat Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak napas makhluk. Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut tarekat ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Seorang salik sebelum sampai pada tingkatan Syattar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat Akhyar (orang-orang terpilih) dan Abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal, qana’ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridla, dzikir, dan musyahadah.

Sebagaimana halnya tarekat-tarekat lain, Tarekat Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya. Tiga kelompok yang disebut di atas, masing-masing memiliki metode berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca al-Qur’an, melaksanakan haji, dan berjihad. Kaum Abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan asketisme atau zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu mensucikan hati. Sedang kaum Syattar memperolehnya dengan bimbingan langsung dari arwah para wali. Menurut para tokohnya, dzikir kaum Syattar inilah jalan yang tercepat untuk sampai kepada Allah SWT.

Di dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam dzikir muqaddimah, sebagai pelataran atau tangga untuk masuk ke dalam Tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai ke Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:

1. Dzikir thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.

2. Dzikir nafi itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, ketimbang itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.

3. Dzikir itsbat faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.

4. Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.

5. Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al-makmur (otak, markas pikiran). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Ilahi.

6. Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al-makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.

7. Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.

Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surat al-Mukminun ayat 17: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)”. Adapun ketujuh macam nafsu yang harus ditunggangi tersebut, sebagai berikut:

1. Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut:
Senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.

2. Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.

3. Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, tobat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.

4. Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridla, dan takut kepada Allah SWT.

5. Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadlah, dan menepati janji.
6. Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.

7. Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Khusus dzikir dengan nama-nama Allah (al-asma’ al-husna), tarekat ini membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok. Yakni, a) menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al-Qahhar, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan lain-lain; b) menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al-Malik, al-Quddus, al-’Alim, dan lain-lain; dan c) menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al-Mu’min, al-Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas. Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.

Satu hal yang harus diingat, sebagaimana juga di dalam tarekat-tarekat lainnya, adalah bahwa dzikir hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru atau syekh. Pembimbing spiritual ini adalah seseorang yang telah mencapai pandangan yang membangkitkan semua realitas, tidak bersikap sombong, dan tidak membukakan rahasia-rahasia pandangan batinnya kepada orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Di dalam tarekat ini, guru atau yang biasa diistilahkan dengan wasithah dianggap berhak dan sah apabila terangkum dalam mata rantai silsilah tarekat ini yang tidak putus dari Nabi Muhammad SAW lewat Ali bin Abi Thalib ra, hingga kini dan seterusnya sampai kiamat nanti; kuat memimpin mujahadah Puji Wali Kutub; dan memiliki empat martabat yakni mursyidun (memberi petunjuk), murbiyyun (mendidik), nashihun (memberi nasehat), dan kamilun (sempurna dan menyempurnakan). Secara terperinci, persyaratan-persyaratan penting untuk dapat menjalani dzikir di dalam Tarekat Syattariyah adalah sebagai berikut: makanan yang dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal; selalu berkata benar; rendah hati; sedikit makan dan sedikit bicara; setia terhadap guru atau syekhnya; kosentrasi hanya kepada Allah SWT; selalu berpuasa; memisahkan diri dari kehidupan ramai; berdiam diri di suatu ruangan yang gelap tetapi bersih; menundukkan ego dengan penuh kerelaan kepada disiplin dan penyiksaan diri; makan dan minum dari pemberian pelayan; menjaga mata, telinga, dan hidung dari melihat, mendengar, dan mencium segala sesuatu yang haram; membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu, dan bangga diri; mematuhi aturan-aturan yang terlarang bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian berjahit.

Sanad atau Silsilah Tarekat Syattariyah
Sebagaimana tarekat pada umumnya, tarekat ini memiliki sanad atau silsilah para wasithahnya yang bersambungan sampai kepada Rasulullah SAW. Para pengikut tarekat ini meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW, atas petunjuk Allah SWT, menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk mewakilinya dalam melanjutkan fungsinya sebagai Ahl adz-dzikr, tugas dan fungsi kerasulannya. Kemudian Ali menyerahkan risalahnya sebagai Ahl adz-dzikir kepada putranya, Hasan bin Ali, dan demikian seterusnya sampai sekarang. Pelimpahan hak dan wewenang ini tidak selalu didasarkan atas garis keturunan, tetapi lebih didasarkan pada keyakinan atas dasar kehendak Allah SWT yang isyaratnya biasanya diterima oleh sang wasithah jauh sebelum melakukan pelimpahan, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW sebelum melimpahkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Berikut contoh sanad Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh para mursyid atau wasithahnya di Indonesia:

Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kepada Sayyidina Hasan bin Ali asy-Syahid, kepada Imam Zainal Abidin, kepada Imam Muhammad Baqir, kepada Imam Ja’far Syidiq, kepada Abu Yazid al-Busthami, kepada Syekh Muhammad Maghrib, kepada Syekh Arabi al-Asyiqi, kepada Qutb Maulana Rumi ath-Thusi, kepada Qutb Abu Hasan al-Hirqani, kepada Syekh Hud Qaliyyu Marawan Nahar, kepada Syekh Muhammad Asyiq, kepada Syekh Muhammad Arif, kepada Syekh Abdullah asy-Syattar, kepada Syekh Hidayatullah Saramat, kepada Syekh al-Haj al-Hudhuri, kepada Syekh Muhammad Ghauts, kepada Syekh Wajihudin, kepada Syekh Sibghatullah bin Ruhullah, kepada Syekh Ibnu Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali, kepada Syekh Muhammad Ibnu Muhammad, Syekh Abdul Rauf Singkel, kepada Syekh Abdul Muhyi (Safarwadi, Tasikmalaya), kepada Kiai Mas Bagus (Kiai Abdullah) di Safarwadi, kepada Kiai Mas Bagus Nida’ (Kiai Mas Bagus Muhyiddin) di Safarwadi, kepada Kiai Muhammad Sulaiman (Bagelan, Jateng), kepada Kiai Mas Bagus Nur Iman (Bagelan), kepada Kiai Mas Bagus Hasan Kun Nawi (Bagelan) kepada Kiai Mas Bagus Ahmadi (Kalangbret, Tulungagung), kepada Raden Margono (Kincang, Maospati), kepada Kiai Ageng Aliman (Pacitan), kepada Kiai Ageng Ahmadiya (Pacitan), kepada Kiai Haji Abdurrahman (Tegalreja, Magetan), kepada Raden Ngabehi Wigyowinoto Palang Kayo Caruban, kepada Nyai Ageng Hardjo Besari, kepada Kiai Hasan Ulama (Takeran, Magetan), kepada Kiai Imam Mursyid Muttaqin (Takeran), kepada Kiai Muhammad Kusnun Malibari (Tanjunganom, Nganjuk) dan kepada KH Muhammad Munawar Affandi (Nganjuk).

read more...

Adab Mencari Ilmu Menurut Kaum Sufi


Syeikh Abu Nashr as-Sarraj
Syeikh ABu Nashr as-Sarraj-Rahimahullah berkata : Saya mendengar Ahmad bin Ali al Wajihi berkata: Saya mendengar Abu Muhammad al Jariri - rahimahullah - berkata, “Duduk untuk bermudzakaroh (belajar ilmu) akan menutup pintu manfaat, sedangkan duduk untuk saling memberi nasihat akan membuka pintu manfaat.”

Abu Yazid - rahimahullah - berkata, “Barangsiapa tidak bisa mengambil manfaat dari diamnya orang yang berbicara maka ia tidak akan bisa mengambil manfaat dari pembicaraannya.”
Al Junaid - rahimahullah - berkata, “Mereka (kaum Sufi) sangat tidak suka bila lisan melampaui keyakinan hati.”

Disebutkan bahwa Abu Muhammad al Jariri berkata, “Keadilan dan adab ialah hendaknya orang yang mulia tidak membicarakan ilmu ini (tasawuf sehingga Ia ditanya.” Abu Ja’far al-Faraji, sahabat karib Abu Turab an-Nakhsyabi - rahimahullah - berkata, “Aku tinggal diam selama dua puluh tahun tidak bertanya suatu persoalan kecuali bila aku mantapkan terlebih dahulu sebelum aku menyatakan dengan lisanku.”

Abu Hafsh - rahimahullah - berkata, “Tidak dibenarkan berbicara kecuali bagi seseorang yang apabila ia diam malah mendapatkan siksa.”

la juga berkata, ‘Ada seseorang datang pada Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al Jalla’ - rahimahullah - yang menanyakan tentang masalah tawakal. Saat itu ada sekelompok orang (jamaah), maka ia tidak menjawabnya dan masuk ke dalam kamarnya, kemudian la keluar lagi dengan membawa seikat kain yang berisi empat dananiq (mata uang) yang diberikan kepada mereka. Kemudian la berkata kepada mereka, `Dengan uang ini silakan kalian membeli sesuatu.’ Kemudian ia baru mau menjawab apa yang ditanyakan orang tersebut. Kemudian ia ditanya, `Mengapa ia melakukan hal itu?’ Maka la menjawab, Aku malu pada Allah untuk menjawab masalah tawakal sedangkan aku masih memiliki empat dananiq’.”

Dikisahkan dari Abu Abdillah al-Hushri yang berkata: Saya pernah berkata kepada Ibnu Yazdaniar ketika la sedang mencari ilmu, `Aku tidak melihat apa yang ada pada semua makhluk kecuali kabar tentang gaib dan sangat mungkin Anda adalah yang gaib.” Kemudian la berkata, “Coba ulangi apa yang Anda katakan.” Lalu saya menjawabnya, “Saya tidak akan mengulanginya.”

Ibrahim al-Khawwash - rahimahullah - berkata, “Ilmu ini tidak layak kecuali bagi mereka yang mampu mengungkapkan wajd (suka cita ruhani)nya dan berbicara tentang perbuatannya.”
Abu Ja’far ash-Shaidalani - rahimahullah - berkata: Ada seseorang bertanya suatu masalah kepada Abu Said al-Kharraz - rahimahullah. la hanya memberi isyarat tentang masalah yang ditanyakan. Abu Said kemudian berkata, “Kami telah mencapai kedudukan anda dan sepakat dengan apa yang Anda inginkan tanpa harus dengan isyarat dari Anda. Sebab orang yang banyak memberi isyarat pada Allah adalah orang yang paling jauh dari¬Nya.”

Al-Junaid - rahimahullah - berkata, “Andaikan aku tahu, bahwa di kolong langit ini ada ilmu yang lebih mulia daripada ilmu kami ini (tasawuf), niscaya aku akan berusaha mencarinya dan menemui orang yang memilikinya, sehingga aku mendengar dari mereka tentang ilmu tersebut. Dan andaikan aku tahu, bahwa ada waktu yang lebih mulia daripada waktu kami ini ketika berkumpul dengan para sahabat dan guru kami, dan ketika kami menanyakan berbagai masalah dan mencari ilmu ini, tentu aku akan bangkit mencarinya.”

Al Junaid - rahimahullah - berkata, “Bagiku tidak ada kelompok manusia dan kaum yang berkumpul untuk mencari ilmu yang lebih mulia dari kelompok ini.
Tidak pula ada ilmu yang lebih mulia dari ilmu mereka. Andaikan tidak demikian, maka aku tak mungkin duduk dan berteman dengan mereka. Namun karena mereka dalam pandanganku adalah seperti apa yang aku ucapkan maka aku lakukan semua itu.”
Abu Ali ar-Rudzabari - rahimahullah - berkata, “Ilmu kami ini adalah ilmu isyarat. Apabila menjadi suatu ungkapan maka akan ringan bobotnya.”

Abu Said al-Kharraz - rahimahullah - berkata, “Aku diberi tahu tentang Abu Hatim al-Aththar dan keutamaannya, dimana ia tinggal di Basrah. Kemudian dari Mesir, aku berangkat menuju Basrah. Sampai di sana kemudian aku masuk masjid Jami` Basrah. Ternyata la duduk di masjid ini, yang di sekelilingnya banyak orang dari sahabat-sahabatnya. la berbicara kepada mereka tentang ilmu. Pertama kali yang aku dengar dari pembicaraannya setelah la melihatku ialah, Aku duduk hanya untuk seseorang. Lalu di mana seseorang tersebut? Dan siapa untukku dengan seseorang tersebut? Kemudian la memberi isyarat padaku, `Orang tersebut adalah Anda.’ Kemudian la berkata, `Menampakkan apa yang menjadikan mereka ahli, membantu mereka apa yang diwajibkan kepada mereka, menjadikan gaib apa yang dihadirkan pada mereka. . Maka hanya untuk-Nya mereka berbuat, dari-Nya dan kepada-Nya mereka kembali’.”

Dikisahkan dari al Junaid - rahimahullah - yang mengatakan, “Andaikan ilmu kami ini dibuang ke tempat sampah, maka setiap orang hanya akan mengambil sesuai dengan ukurannya.”
Dikisahkan dari asy-Syibli, pada suatu hari la pernah berkata kepada anggota majelisnya, “Kalian adalah leontin dari kalung, dimana mimbar-mimbar dari cahaya dipasang untuk kalian dan para malaikat merasa bahagia dengan kalian.” Kemudian ada seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang menjadikan para malaikat merasa bahagia?” la menjawab, “Karena mereka berbicara tentang ilmu ini (tasawuf).”

Saya mendengar Ja’far al-Khuldi berkata: Saya mendengar al-Junaid berkata:
Sari as-Saqathi - rahimahullah - pernah berkata, “Sebagaimana yang saya dengar, bahwa ada sekelompok orang di masjid Jami` yang duduk di sekeliling Anda.”

Saya jawab, “Ya, benar! Mereka adalah saudara-saudara kami, dimana kami saling
ber-mudzakarah (belajar) ilmu. Masing-masing di antara kami saling mengambil manfaat antara yang satu dengan yang lain.” Kemudian ia berkata, “Alangkah jauhnya wahai Abu al-Qasim (nama panggilan al Junaid), saya sekarang telah menjadi tempat bagi para penganggur.”[pagebreak]

Dikisahkan dari al Junaid - rahitnahullah - yang mengatakan, “Jika Sari as-Saqathi - rahimahullah - ingin mengajariku sesuatu maka la menanyakan suatu masalah. Suatu hari la pernah bertanya, `Wahai anak muda, apa syukur itu?’ Maka aku menjawabnya, `Syukur ialah Anda tidak bermaksiat kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepada Anda.’ Akhirnya ia menganggap baik atas jawabanku. la memintaku untuk mengulang jawabanku tentang syukur sembari berkata, `Bagaimana jawabanmu tentang syukur? Coba ulangi jawabanmu!’ Aku kemudian mengulanginya.”

Syekh Abu Nashr as-Sarraj berkata: Aku dapatkan kisah ini lewat tulisan Abu Ali ar-Rudzabari dari al Junaid.
Diceritakan dari Sahl bin Abdullah - rahimahullah - bahwa ia pernah ditanya tentang masalah-masalah ilmu (tasawuf). Namun la tidak mau menjawabnya. Setelah beberapa waktu, ia berbicara tentang ilmu tersebut dan tampak sangat menguasai dengan balk. Kemudian ia ditanya tentang alasan, mengapa waktu itu la tidak mau berbicara tentang ilmu tersebut. Lalu la menjawab, “Pada saat itu Dzun-Nun masih hidup, sehingga aku sangat tidak suka bicara tentang ilmu ini (tasawuf) ketika la masih hidup. Karena aku sangat menghormatinya.”

Abu Sulaiman ad-Darani - rahimahullah - berkata, “Andaikan di Mekkah ini aku tahu ada seseorang yang bisa memberiku ilmu ma’rifat sekalipun hanya satu kata, niscaya aku akan mendatanginya dengan berjalan kaki, sekalipun jarakyang harus ditempuh seribu farsah, sehingga aku bisa medengar langsung darinya.”
Abu Bakar az-Zaqqaq berkata, ‘Aku mendengar satu kalimat dari al Junaid tentang fana’ sejak empat puluh tahun yang lalu, dimana kalimat tersebut selalu membangkitkanku, sedangkan aku setelah itu dalam ketidaktahuan.”

Saya mendengar ad-Duqqi berkata: Saya mendengar kisah ini dari az-Zaqqaq.
Saya mendengar ad-Duqqi berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah al Jalla’ - rahimahullah, “Mengapa ayah Anda disebut dengan al Jalla’?” la menjawab, “Bukan karena kata al Jalla’ ini mengandung arti pembersih karat besi, akan tetapi jika la berbicara kepada hati nurani akan memperlihatkan karat bekas dosa-dosa yang dilakukan.”
Al-Harits al-Muhasibi - rahimahullah - berkata, “Sesuatu yang paling mulia di dunia ini adalah orang alim yang mengamal¬kan ilmunya dan orang arif yang berbicara tentang hakikatnya.”

Saya mendengar Ibnu ‘Ulwan berkata, “Jika ada seorang ber¬tanya kepada al Junaid tentang suatu masalah, sedangkan la tidak termasuk dalam kondisi spiritual dari masalah yang ditanyakannya, maka la akan berkata:
‘Tidak ada daya upaya dan kekuatan apa pun kecuali dengan Allah.’
Dan jika orang itu mengulangi lagi pertanyaannya maka ia akan menjawabnya:
’Cukuplah Allah penolong kami dan Dialah sebaik-baik Dzat Yang menjadi Wakil’.” (Q.s. Ali Imran: 173).
Dikisahkan bahwa Abu Amr az-Zujajii - rahimahullah - berkata, “Jika Anda sedang duduk mendengar seorang syekh berbicara tentang suatu ilmu, sementara Anda mau kencing dan hampir tidak bisa ditahan, maka andaikan Anda kencing di tempat Anda duduk akan lebih balk daripada Anda bangkit dari tempat duduk Anda meninggalkan majelis. Sebab kencing masih bisa dicuci dengan air sedangkan apa yang terlewatkan dari ilmu yang ia ajarkan tak mungkin Anda memperoleh kembali untuk selamanya.”

Al-Junaid - rahimahullah - berkata: Saya pernah berkata kepada Ibnu al-Kurraini - rahimahullah, “Jika ada seseorang yang berbicara tentang suatu ilmu yang la sendiri tidak mampu mengamalkannya. Maka yang lebih Anda sukai, kalau kondisinya demi¬kian diam ataukah berbicara?” Kemudian la menundukkan kepala, dan kemudian mengangkatnya kembali sembari berkata, “Jika Anda ahlinya maka bicaralah!”
Asy-Syibli - rahimahullah - berkata, “Bagaimana pendapat Anda tentang suatu ilmu, yaitu ilmu para ulama yang menimbulkan dugaan?”

Sementara itu Sari as-Saqathi - rahimahullah - berkata, “Barangsiapa menghiasi dirinya dengan ilmu, maka kebaikannya adalah kejelekan.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - berkata: Dari masing-masing kisah ini memiliki keterangan dan kesimpulan yang cukup jelas bagi mereka yang sanggup memahaminya.
read more...

Imam Syafi'i dan Gurunya, Imam Malik bin Anas

Betapa gembiranya Imam Malik karena mendapat seorang murid yang cerdas dan bijak seperti Syaf'i. Syaf'i semenjak kecil bukan saja telah hapal
seluruh isi al-Quran dan ribuan hadis Nabi s.a.w. malah beliau juga telah
hapal seluruh isi kitab Hadis Muwatta' karangan Imam Malik bin
Anas, sebelumnya Syaafi'i bertemu dengan Imam Malik. Imam Syafi'i membagi malam kepada tiga bahagian yaitu:

  • Sepertiga untuk Ilmu Pengetahuan
  • Sepertiga untuk sholat
  • Sepertiga untuk tidur
Rabi' menerangkan bahwa Imam Syafi'i setiap hari menamatkan al-Quran
sekali, tetapi dalam bulan Ramadhan seluruhnya enam puluh kali, dan
semuanya dibaca ketika menunaikan ibadah Sholat. Imam Syafi'i sendiri
menerangkan bahwa beliau belum pernah bersumpah seumur hidupnya, baik ketika membenarkan sesuatu ataupun mendustakan sesuatu. Pernah disatu ketika ada orang bertanyakan sesuatu masaalah kepada beliau. Ketika itu Imam Syafi'i mendiamkan diri sejenak tidak langsung menjawabnya. Ketika beliau disoal mengapa berbuat demikian, maka Imam Syafi'i menjelaskan:

"Aku menunggu terlebih dahulu, sehingga aku mengetahui, mana yang lebih
baik aku diam ataupun menjawab pertanyaanmu."

Ini menunjukkan bahwa Imam Syafi'i adalah orang yang sangat teliti dalam memberikan sesuatu fatwa, kepada seseorang yang bertanyakan sesuatu masaalah semasa.

Imam Syafi'i pernah mengatakan: "Pada suatu hari aku tidak punya uang sesenpun, sedangkan aku ingin benar menuntut Ilmu. Lalu aku pergi bekerja disebuah Dewan untuk mendapat sedikit belanja". Ini menunjukkan bahwa Imam Syafi'i tidak berdiam diri ketika menemui kesulitan dalam
keuangan, terutama ketika menuntut Ilmu, beliau bersedia bekerja apa saja
yang halal, asalkan saja cita-citanya tercapai.

Imam Ghazali pernah menceritakan bahwa Imam Syafi'i juga adalah seorang Tokoh penting dalam kehidupan Sufi. Ia seorang yang sangat Taqwa tidak ingin bermegah-megahan dalam hal apapun juga. Berkenaan Ilmu Sufi, Imam Syafi'i berkata: "Saya ingin manusia itu mempelajari Ilmu ini, tetapi janganlah menyebut-nyebut namaku, dengan sepatah kata juapun".

Diantara kata-kata yang bernilai sufi daripada Imam Syafi'i ialah:

  • Orang yang zalim kepada dirinya, ialah orang yang merendahkan dirinya kepada orang yang tidak memuliakannya dan orang yang menyukai sesuatu benda yang tidak memberi manfaat kepadanya, begitu juga orang yang menerima sesuatu pujian dari seseorang yang lain yang tidak mengenalnya, dengan sesungguh-sungguhnya.
  • Orang yang tidak diutamakan karena Taqwanya, tidaklah termasuk Orang Yang Utama.
  • Siasat manusia lebih kejam daripada siasat binatang.
  • Jikalau kuketahui bahwa ia dengan itu dapat mengurangi kehormatanku, meskipun aku haus, aku tidak akan meminumnya.
  • Diantara tanda-tanda benar dalam Ukhuwah ialah menerima keritikan teman, menutupi aib teman, dan mengampuni kesalahannya." Demikianlah kata-kata Hikmah dari Imam Syafi'i r.a.
read more...

Sejarah masuknya Islam ke tanah Jawa

Sejauh ini, perbincangan mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia masih didominasi dua teori yang sudah klasik dan klise, serta disinyalir penulis buku ini mengandung penanaman ideologi otentisitas. Bias ideologi otentisitas itu kira-kira menyatakan, kalau Islam yang datang ke Nusantara bukan berasal dari tanah Arab atau Timur Tengah, maka nilai kesahihan dan ke-afdhal-annya akan dipertanyakan. Makanya, teori pertama tentang datangnya Islam di Nusantara menyatakan bahwa Islam dibawa ke Nusantara oleh para pedagang yang berasal dari Arab/Timur Tengah. Teori ini dikenal sebagai teori Arab, dan dipegang oleh Crawfurd, Niemann, de Holander. Bahkan Fazlur Rahman juga mengikuti mazhab ini (Rahman: 1968). Kedua adalah teori India. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari India. Pelopor mazhab ini adalah Pijnapel yang kemudian diteliti lebih lanjut oleh Snouck, Fatimi, Vlekke, Gonda, dan Schrieke (Drewes: 1985; Azra: 1999).

Terlepas dari dua teori di atas, para sejarahwan umumnya melupakan satu komunitas yang juga memberikan kontribusi cukup besar atas berkembangnya Islam di Nusantara, khususnya Jawa. Mereka adalah komunitas Cina-muslim. Meskipun selama ini terdapat beberapa kajian tentang muslim Cina di Jawa, tapi uraiannya sangat terbatas, partikular dan spesifik (hanya menyakup aspek-aspek tertentu saja) di samping sumber-sumber yang dipakai untuk merekonstruksi sejarah juga masih terbatas. Makanya, sampai kini bisa dikatakan, belum ada satu karya ilmiah yang membahas secara ekstensif mengenai kontribusi muslim Cina di Indonesia.

Padahal, eksistensi Cina-muslim pada awal perkembangan Islam di Jawa tidak hanya ditunjukkan oleh kesaksian-kesaksian para pengelana asing, sumber-sumber Cina, teks lokal Jawa maupun tradisi lisan saja, melainkan juga dibuktikan pelbagai peninggalan purbakala Islam di Jawa. Ini mengisaratkan adanya Pengaruh Cina yang cukup kuat, sehingga menimbulkan dugaan bahwa pada bentangan abad ke-15/16 telah terjalin apa yang disebut Sino-Javanese Muslim Culture. Ukiran padas di masjid kuno Mantingan-Jepara, menara masjid pecinaan Banten, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, arsitektur keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi, konstruksi masjid Demak --terutama soko tatal penyangga masjid beserta lambang kura-kura, konstruksi masjid Sekayu di Semarang dan sebagainya, semuanya menunjukkan pengaruh budaya Cina yang cukup kuat. Bukti lain dapat ditambah dari dua bangunan masjid yang berdiri megah di Jakarta, yakni masjid Kali Angke yang dihubungkan dengan Gouw Tjay dan Masjid Kebun Jeruk yang didirikan oleh Tamien Dosol Seeng dan Nyonya Cai.

Nah, pelacakan Sumanto dalam buku ini tidak berhenti di situ. Ia mendapati bahwa pada nama tokoh yang menjadi agen sejarah, ternyata telah terjadi verbastering dari nama Cina ke nama Jawa. Nama Bong Ping Nang misalnya, kemudian terkenal dengan nama Bonang. Raden Fatah yang punya julukan pangeran Jin Bun, dalam bahasa Cina berarti “yang gagah”. Raden Sahid (nama lain Sunan Kalijaga) berasal dari kata “sa-it” (sa = 3, dan it = 1; maksudnya 31) sebagai peringatan waktu kelahirannya di masa ayahnya berusia 31 tahun.

Dengan ditemukannya beberapa fakta sejarah di atas, seharusnya etnis Cina mendapatkan perlakukan yang proposional dari pihak pribumi, khususnya warga muslim. Sikap ramah perlu mereka tunjukkan kepada mereka, sebagaimana sikap terhadap warga negara Indonesia asli keturunan Arab, India, atau Eropa. Namun yang terjadi sepanjang sejarah dan saat ini justru sebaliknya. Pada etnis Cina sebagai komunitas etnis, di mata masyarakat telah melekat sifat-sifat yang mengandung unsur peyoratif seperti kikir, eksklusif, hingga identik dengan Konghuchu. Inilah sebagian pandangan yang diwariskan pihak Belanda kepada masyarakat Jawa di saat institusi kolonial itu mulai mengukuhkan hegemoninya di negeri ini. Sikap antipati yang diwarisi dari Belanda itu berawal dari hubungan harmonis yang terjalin antara masyarakat Jawa dengan etnis Cina, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun politik pada zaman Belanda mulai menjajah Indonesia. Demi melihat itu semua, kontan Belanda merasa tersaingi, terutama di dalam bidang perdagangan. Puncaknya, Jendral Andrian Valckeiner, mengadakan pembantaian massal atas etnis Cina, yang kemudian dikenal dengan chinezenmoord (pembantaian orang Cina) yang terjadi pada bulan oktober tahun 1740. Setelah tragedi itu, di Kudus juga terjadi pertikaian yang disulut oleh semangat anti-Cina. Ini belum lagi ditambahkan berbagai peristiwa berdarah di negeri ini yang melampiaskan objek kemarahannya pada etnis Cina pada umumnya.

Tidak hanya berhenti disitu, setelah peristiwa 1740, VOC mengeluarkan kebijakan yang disebut passenstelsel, yakni keharusan bagi setiap orang Cina untuk mempunyai surat jalan khusus apabila hendak bepergian ke luar distrik tempat dia tinggal. Selain passenstelsel, VOC juga mengeluarkan peraturan wijkenstelsel. Peraturan ini melarang orang Cina untuk tinggal di tengah kota dan mengharuskan mereka membangun “gettho-gettho” berupa pecinan sebagai tempat tinggal. Kedua kebijakan tersebut bermaksud agar mereka mudah diawasi dan dikontrol. Inilah salah satu bentuk politik rasialisme anti-Cina pertama di Jawa, yang lambat laun menciptakan status “in-group” dan “out-group” dalam lapisan masyarakat. Kategori ini kelak menciptakan segregasi sosial-politik-ekonomi Cina dengan pribumi.

Namun argumen yang dipaparkan di atas bukan berarti melegitimasi etnis Cina --baik muslim maupun non muslim-- untuk meminta penghargaan atas kontribusi nenek moyang mereka atas islamisasi Jawa, dengan penghormatan yang layak tanpa memperbaiki sikap dengan cara menunjukkan iktikad baik dalam bersosialisasi dengan pribumi. Yang seharusnya terjadi di antara etnis Cina --muslim dan non muslim-- dengan pribumi adalah simbiosis mutualisme.

Para sejarahwan yang menyangsikan kontribusi Cina-muslim atas Islamisasi Jawa, umumnya berangkat dari kenyataan sejarah bahwa aliran keagamaan yang dibawa dan dikembagkan oleh Cina-muslim adalah mazhab Hanafi yang berciri rasionalistik. Sedangkan penduduk muslim di Indonesia mayoritas mengikuti mazhab Syafi’i. Alasan paling mungkin untuk menjelaskan fenomena ini adalah telah terjadi perpindahan mazhab beberapa muslim dari Hanafi ke Syafi’i. Hal itu didorong oleh realitas sosiologis masyarakat Jawa yang tidak memungkinkan persemaian mazhab Hanafi yang rasionalistik. Sebaliknya mazhab Syafi’i dinilai lebih kompatibel dengan semangat kebudayaan masyarakat Jawa yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi lokal (local tradition).

Daerah yang dijadikan sebagai objek kajian oleh Sumanto adalah Jawa. Satu hal yang membedakan antara tesis yang dihasilkan penulis buku ini dengan Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Objek kajian yang diteliti Azyumardi Azra adalah Sumatra, selain faktor waktu yang diteliti oleh keduanya juga berbeda. Hanya saja, itu semua tidak mengurangi nilai penting buku ini sebagai sebuah dokumen analisis sejarah. Buku ini mencoba memotret lebih jauh peranan yang dimainkan etnis Cina-muslin dalam proses islamisasi Jawa pada bentangan abad XV dan XVI. Tujuan buku ini, dengan menganalisis dan mengungkap sisi sejarah masa itu, diharapkan sentimen primordialistik dan semangat anti-Cina yang sudah lama mengakar di dalam persepsi masyarakat Indonesia sedikit demi sedikit dapat berkurang atau hilang sama sekali. Semoga saja!

read more...

DI MANAKAH WILAYAH KHURASAN

Khurasan adalah satu kawasan/wilayah yang sudah tidak wujud lagi dalam pet dunia. Wilayah Khurasan yang dimaksudkan di dalam hadis itu meliputi kawasan Kabul, Afghanistan, Uzbekistan, sebahagian kecil Iran, sebahagian kecil Pakistan, memanjang ke Barat China meliputi wilayah Xinjiang sampai ke Yunnan.

i. Kabul, Afghanistan.
Kabul merupakan pangkal Khurasan. Ketika ini perang saudara sedang berlaku di antara puak-puak mujahidin yang saling bertentangan. Puak syiah yang disokong Iran dan wahabi sokongan Arab Saudi sedang berentap bermati-matian.

Mereka telah berjuang lama untuk membebaskan Afghanistan dari penjajah Komunis Rusia, dan mereka berjaya mengusir komunis. Malangnya mereka terus berperang sesama sendiri. Kini Afghanistan dikuasai oleh Taleban.

Di celah-celah berkecamuknya perang saudara itulah bakal munculnya golongan Asoib sepertimana yang dinyatakan oleh hadis. Golongan ini tidak terlibat dalam krisis tetapi memendam kekuatan. Untuk mereka ada tugas besar mengibarkan panji-panji hitam yang dijadualkan. Mereka inilah yang akan mudah menerima orang Timur.
ii. Pakistan
Hanya sebahagian kecil sahaja yang termasuk di dalam peta Khurasan, iaitu wilayah-wilayah yang dekat dengan Kota Islamabad.

iii. Yunnan
Yunnan adalah salah sebuah wilayah di China yang penduduknya banyak menganut Islam selain Xinjiang, Gansu, Ningxia dan Qinghai. Di Yunan terdapat sekitar 4 juta umat Islam. Malangnya Islam di sini begitu lemah hingga kebanyakan umatnya telah lupa syahadat dan lupa nama Islam mereka. Ini akibat kelalaian ulama mereka yang kemudian disambung dengan kedatangan Komunis. Walaupun demikian, jika dibanding dengan agama-agama lain, Islam masih hidup dan terus membara di China. Akar tunjang aqidah umat Islam tetap tidak tercabut.

Islam terus bangkit setelah negeri China mengamalkan dasar terbuka. Kini masjid-masjid tumbuh mercup sedang kuil-kil tidak lagi dibina. Mereka masih inginkan Islam dan amat senang sekali menerima kedatangan orang Islam dari luar.
iv. Uzbekistan
Ia telah bebas dan merdeka dari Soveit Union. Wilayah-wilayah utamanya ialah Samarkhand, Bukhara, Tirmez dan lain-lain. Ibukotanya Tashkent. Bumi Khurasan ini telah pernah melahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari, Abu Laits As Samarkandi, Imam Bahaudin, Imam Muslim, Imam Nasai, Imam Tirmizi, Imam Nakhai dan lain-lain.

Selain pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam, ia berkembang sebagai pusat ilmu sains, matematik, optik, geografi, astronomi dan lain-lain lagi.

Telah lahir tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina, Al Farabi, Al Biruni, Ibnu Rusyd, Ali syir dan Umar Khayyam Di segi keIslaman, ilmu dan pengamalan muslimnya lebih baik dari muslim di Yunnan. Uzbekistan lebih mampu melahirkan kader-kader perjuangan Islam yang berpotensi dan berkualiti. Lebih-lebih lagi ia berhampiran dengan kawasan-kawasan umat Islam yang lain seperti Tajikistan, Kazakhstan, Turkmenistan dan Khirghiza. Kembalinya negara-negara ini kepada Islam secara total sangat dibimbangi oleh Barat.

Negara-negara ini punya kekuatan ekonomi, bahan mentah, tenaga manusia dan senjata. Tetapi kekuatan yang lebih digeruni oleh Barat ialah Islam.Negara “Ma waraa unnahar”-negeri di sebalik sungai ini kini sedang marak pengamalan Islamnya.

Keadaan yang tidak bergolak dengan peperangan memudahkan lagi Islam diamalkan setelah lama berada di bawah Komunis. Di bumi inilah panji-panji hitam akan diterima, dan di sini juga terdapat figure yang dikenali sebagai Al Haris Harras yang tersebut di dalam hadis.

Berdasarkan hadis, kebangkitan Islam di akhir zaman umpama satu badan. Timur adalah nadinya, sementara Khurasan adalah tulang belakangnya. Timur adalah pemimpin, pencetus dan pendorong kepada kemaraan ini, sedangkan Khurasan adalah penyokong dan pembantu utama kepada Timur. Kedua-duanya akan bergabung seperti bergabungnya nadi dan tulang belakang. Kemudian barulah tubuh Islam itu kuat dan lebih aktif bergerak. Ertinya, bila Islam di Timur dan Khurasan bersatu, Islam akan mendapat kekuatan baru seperti yang ditunggu-tunggu selama ini.
Penyatuan ini tepat seperti yang telah disabdakan Rasulullah SAW, sama ada dari segi masa, tokoh yang terlibat, cara dan bentuknya. Ini berita baik untuk Timur, untuk Khurasan dan untuk seluruh dunia amnya.

read more...

Sajak Panglima Alloh

ALLOH…

Segala persoalan terjawab kini,
Aku mencari Yang Maha Agong,
Kini aku telah sempurna,
Mengadap Allah Yang Maha Esa,

Kini aku telah sempurna,
Telah ku tempuh suka dan duka,
Segala cerita penuh luka,
Segala kisah senyum dan tawa,

Di sini aku dilahirkan,
Mula mengenal erti kehidupan,
Mula dirasa segala kesukaran,
Semua hilang dalam ingatan,

Zaman kanak-kanak penuh keriangan,
Hari dilalui penuh kegirangan,
Tak pernah kenal erti kekecewaan,
Hati tak pernah terhiris kelukaan,

Zaman remaja indah belaka,
Tercari-cari hakikat cita,
Segala ilmu tekun di timba,
Buat bekal di hari muka,

Zaman bergelar mahasiswa,
Zaman kemuncak sinar bahagia,
Bertemu si dia gadis ceria,
Yang dulu selalu mengganggu lena,

Zaman tercampak di bumi Mersing,
Bumi bertuah gersang dan asing,
Akhirnya aku pulang berpaling,
Bahagia hidup calar terconteng,

Zaman tercampak di Bukit Jalil,
Ranjau hidup masih tercungkil,
Bahagia hakiki tidak terpanggil,
Seperti tangisan ketika lahir,

Kini aku telah dewasa,
Pulang ke kampung halaman tercinta,
Namun diseru “sebuah kuasa”,
Agar menggegar sebuah dunia,
Yang sedang dalam noda dan dosa,

Aduhai ibu dan ayah tercinta,
Maafkan segala kotoran dosa,
Izinkan anakanda berjuang di sana,
Melaksana suruhan ALLAH Yang Esa,

Seruan akan aku laksana,
Biar cintaku belum sempurna,
Rusuk kiriku kini tiada,
Moga kembali kita bersama,

Kini aku faham segala,
Terima kasih ALLAH tercinta,
ALLAH yang mengajar tulis dan baca,
ALLAH yang tahu segala-galanya,

“Wahai hambaKu yang taat setia,
Bimbinglah sekalian umat manusia,
Masanya kini telah tiba,
Pertolongan dariKu mengatasi segala”,

“Wahai makhlukKu bernama Adam,
Inilah kisah yang lama terpendam,
Bukankah Aku telah berjanji,
Bahawa kamu sebaik kejadian,
Setelah kamu Aku cacatkan,
Kerana engkar rahsia seruan,
Kembalilah kamu ke asal kejadian”,

“Wahai makhlukKu bernama Adam,
Kembalilah kamu kepada Adam,
Ketahuilah segala rahsia kecacatan,
Segala dosamu Aku ampunkan”,

Terima kasih ALLAH tercinta,
Maafkan segala noda dan dosa,
Hapuskan segala duka sengketa,
Agar hidup tenang bahagia,

Ramadhan kini menjelang tiba,
30 malam terbuka rahsia,
40 hari penyucian jiwa,
Bimbinglah aku ke dalam syurga,
Untuk melihat wajah-Mu di sana,
Di sanalah syurga segala syurga,

ALLAH…

read more...

Panji-panji hitam

Kenapakah Allah swt akan mengutuskan Imam Mahdi dan Nabi Isa as di akhir zaman?

Dua bentuk kepimpinan yg mewakili Rasulullah saw utk memimpin umat Baginda selepas kewafatan Baginda ialah Khalifah dan Ulama. Khalifah adalah Pemerintah Yg adil manakala ulama pula bertanggung jawab utk membantu khalifah. Umat Islam sudah lama ketiadaan 2 bentuk kepimpinan ini utk memimpin umat Islam melalui sebuah Daulah Islam. Kuasa utk memerintah kerajaan dan mentadbir agama telah dirampas oleh Yahudi dan kuncu2nya. Kuasa itu kemudiannya diserahkan kepada umat Islam yg sanggup meletakkan perintah manusia diatas perintah Tuhan. Lalu sistem ini dipertahankan pula oleh ‘ulama mereka’ yg berbai’at dengan mereka dengan janji setia yg berlandas perlembagaan mereka. Maka dengan itu tamatlah hak Khalifah dan Ulama Pewaris Nabi tanpa disedari oleh umat Islam.

Tipu daya Iblis yg diperturunkan kepada kaum Yahudi tidak lain hanyalah utk membuat manusia terjerat didalam sistem hidup yg akan melenyapkan Islam dari muka bumi ini. Tanpa Islam bermakna putuslah perhubungan manusia dengan Allah SWT. Yahudi pula mewakilkan urusan jahat itu kepada Kristian utk melenyapkan Islam. Kristian pula mewakilkan urusan utk melenyapkan Islam itu kepada umat Islam dengan menyogokkan kuasa utk memerintah. Pemimpin itu pula meyogokkan umat Islam dengan kemerdekaan. Maka bermulalah laungan “merdeka, merdeka, merdeka”. Dengan laungan itu maka tanpa disedari mereka telah menggali liang lahat utk mengkebumikan Islam. Dengan terlaksananya pilihanraya yg pertama maka Islam pun selesai dikapankan. Dengan terbinanya bangunan Parlimen maka terpacaklah batu nisan utk Islam. Hakikat ini pahit diterima tetapi menolak hakikat ini juga tidak menguntungkan umat Islam.

Setelah 50 tahun merdeka, umat Islam mula sedar keadaan tidak menyebelahi umat Islam walaupun umat Islam yg menerajui kerajaan. Untuk menyucikan negara ini dari najis Iblis yg disalurkan melalui sistem-sistem Yahudi maka bank, institiusi pendidikan dll telah cuba disamak dengan meletakkan wajah2 yg berlabelkan Islam kepadanya. Namun itu semua tidak mampu utk menghilangkan najis Iblis tg terpalit ke negara ini. Dalam pada itu semangat utk memperjuangkan Islam muncul dengan mendadak disetiap pelusuk negara dan Nusantara. Islam dibanjiri dengan berbagai-bagai fahaman malah ada juga yg berbentuk ideologi semata. Najis Iblis yg sudah terserap kedalam masyarakat Islam selama ini mula mengeluarkan penyakit-penyakit kronik yg berjangkit. Virusnya ialah ilmu-ilmu Islam yg didapati dengan pembiayaan daripada dana-dana yg diselapuiti oleh Riba.

Dengan terjadinya keadaan sedemikian maka Islam yg sudah tinggal nama dan Al Quran yg hanya tinggal tulisan perlu dihidupkan semula. Cahaya utk menyuluh jalan perlu dihidupkan. Yahudi telah menyediakan satu cahaya utk dijadikan panduan bagi mengantikan cahaya Al Quran yg telah hilang. Manusia pun mulalah berpandukan kepada cahaya itu setiap hari. Cahaya itu terbit dari barat dan terpancar ke dalam rumah-rumah melalui peti-peti talivisyen.

Sekarang adalah waktu kemuncak kepada akhir zaman. Islam mula diperjuangkan disana sini dan pemusuhan diantara Islam dan Kristian tidak dapat diselesaikan di meja perundingan lagi. Pergerakkan umat Islam diperhatikan dan dipantau. Semua ruang utk membina Daulah Islam sudah ditutup. Tidak ada negara yg sesuai utk Khalifah bertapak didunia ini. Kalau Khalifah menjadi warganegara Malaysia, maka Khalifah mesti mematuhi undang-undang kerajaan Malaysia. Mana mungkin Khalifah mematuhi peraturan2 yg selain dari Al Quran. Bolehkah Khalifah menjalankan hukum2 Islam didalam negara seperti Malaysia ini? Mahukah orang2 bukan Islam serahkan kepimpinan negara kepada Khalifah yg diutus oleh Allah SWT. Maka apa yg cuba dikatakan disini ialah sudah tidak ada ruang lagi utk Khalifah yg diutuskan oleh Allah SWT nak menegakkan Daulah Islam didunia ini. Yahudi telah menutup semua ruang utk Khalifah dan Daulah Islamiah muncul kembali tanpa umat Islam sedari.

Tetapi kita juga harus sedar bahawa Iblis mengetahui akan kekuasaan Allah SWT. Iblis sedar Allah SWT mampu mengadakan sesuatu walaupun semua ruang telah ditutup. Oleh itu kita sebagai umat Islam yg masih cintakan Islam mesti mengharapkan Allah SWT memilih kita sebagai hambanya yg diberi peluang utk terlibat didalam proses membangkitkan Islam utk kali kedua. Kita tak mungkin jadi para2 sahabat Rasulullah saw, mahu pun tabiut tabiin. Tapi kita masih berpeluang menjadi pengikut panji-panji hitam utk menbangkitkan semula Islam di akhir zaman ini. Umat Islam harus mengenepikan semua fahaman yg memecah belahkan umat sekarang dan tumpukan kepada perkara yg positif.

Panji-Panji Hitam adalah lambang kepada sebuah Daulah Jelmaan yg akan wujud bersesuaian dengan keadaan diakhir zaman ini. Daulah ini tidak mempunyai persempadanan negara atau kaum. Panji-Panji bermaksud Kerajaan atau kuasa manakala Hitam bermaksud total atau menyeluruh. Hitam adalah warna yg diasaskan dari campuran 4 warna asas “prime colour” iaitu kuning, biru, merah dan jernih. Kuning adalah warna kekuasaan tanah, biru adalah warna kekuasaan air, merah warna kekuasaan api, dan jernih adalah warna kekuasaan angin. Oleh itu hitam adalah warna total yg meliputi 4 perkara asas. Daulah Jelamaan juga meliputi 4 jurusan iaitu Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Sebenarnya banyak lagi kaitan angka 4 yg terkandung didalam Daulah Jelmaan ini seperti konsep 4 sahabat, 4 mazhab dll. Cukuplah dengan anda mengetahui bahawa angka 4 membawa maksud satu gabungan yg lengkap, total atau menyeluruh. Ilmu angka dan warna adalah sebahagian daripada ilmu-ilmu asas utk mengenali rahsia penciptaan Allah SWT melalui penciptaan Alam & Makhluk.

Hadis akhir zaman mesti ditafsir melalui perspektif Makrifat. Kiasan2 yg Rasulullah saw adakan didalam hadis bertujuan utk menyimpan rahsia daripada musuh Islam. Tafsiran akal tidak terjangkau kepada maksud sebenar hadis tersebut. Tanpa dilengkapi ilmu-ilmu Makrifat kita tidak akan mampu menafsir hadis dengan tepat. Hanya umat Islam sahaja yg boleh mencapai Makrifat dan menguasai ilmu-ilmu Makrifat. Dengan cara ini sahaja rahsia-rahsia Islam boleh terpelihara. Yahudi faham ilmu-ilmu apa yg terkandung didalam Islam. Sebab itu Yahudi mesti sekat Islam dari berkembang. Sebenarnya Rasulullah saw telah memberi satu garis panduan yg jelas tentang apa yg akan terjadi di akhir zaman ini melalui hadis tentang akhir zaman. Panduan itu sangat detail dan lengkap. Ini mengambarkan bagaimana seriusnya keadaan diakhir zaman ini. Iman umat Islam sudah sangat2 terancam. Kalau anda dapat lihat keadaan Islam dari sudut pandangan Makrifat, maka Islam boleh diumpamakan seperti seorang ibu yg sudah tua dan uzur malah tidak dipedulikan oleh anak2, jiran2 dan masyarakatnya.

Jangan bangunkan Islam dengan tangan yg berisi kezaliman. Tetapi bangunkan Islam dengan tangan yg berisi dengan keadilan. Jangan sampaikan Islam dengan perkataan yg berisi kebencian, tetapi sampaikan Islam dengan perkataan yg berisi dengan kasih sayang.

read more...